Terjerembab dalam
lubang hitam hidupku
Yang telah lama
kuberusaha meninggalkannya
Melangkah pelan,
mendaki dengan payah tebing lubang hitam itu
Dan aku terjatuh
kembali kedalamnya
Mencoba berteriak tapi
tak bisa
Hanya tangis yang
keluar dari bibirku
Penyesalan...
Yang tersisa hanyalah
penyesalan dan duka dalam hati
Kucoba bangkit kembali
dan mengumpulkan sisa-sisa tenaga jiwaku
Untuk mendaki dan
meraih terang dalam hatiku
Kutampar dengan keras
pikiranku agar ku dapat terjaga dari mimpi gelapku
Dan kukumpulkan
kembali tekadku agar ku dapat menggapai cahaya dalam hidupku
Sekian lama ku telah
berusaha dan tak kan kubiarkan semua itu musnah
Kan kugenggam kembali engkau cahayaku, cahaya malamku
Tapi apakah aku layak untukmu, apakah aku bisa menjadi pemimpin untukmu
Aaah...aku pun tak tahu, rasa malu ini menggerogoti keyakinanku
Apakah terlalu egois jika aku berusaha bersanding dengan mu cahaya malam yang begitu indah
Engkau begitu anggun dan indah, sedangkan aku adalah jelaga hitam penuh cela
Kini yang harus
kulakukan adalah meperbaiki dan tak mengulanginya kembali
Pahit yang terasa
waktu itu masih kuingat saat ini
Kesenangan dan nikmat
semu yang diberikan tak sebanding dengan semua ini
Keyakinanku akan
perubahan ini seperti layaknya samudra di bumi ini
Tak kan pernah
mengering walau apapun kan terjadi
Hati manusia memang
seperti layaknya awan dilangit
Mudah sekali berubah
Suatu saat bersih dan
cerah dan seketika dapat berubah hitam dan kelam
Tapi kuyakin dengan
usaha dan doa, ku kan bisa menjaga hatiku tetap cerah
Dan ku takkan terjatuh
lagi dalam lubang hitam itu