Sabtu, 01 Desember 2012

Sebuah perubahan dalam penyesalan


Terjerembab dalam lubang hitam hidupku
Yang telah lama kuberusaha meninggalkannya
Melangkah pelan, mendaki dengan payah tebing lubang hitam itu
Dan aku terjatuh kembali kedalamnya
Mencoba berteriak tapi tak bisa
Hanya tangis yang keluar dari bibirku

Penyesalan...
Yang tersisa hanyalah penyesalan dan duka dalam hati
Kucoba bangkit kembali dan mengumpulkan sisa-sisa tenaga jiwaku
Untuk mendaki dan meraih terang dalam hatiku
Kutampar dengan keras pikiranku agar ku dapat terjaga dari mimpi gelapku
Dan kukumpulkan kembali tekadku agar ku dapat menggapai cahaya dalam hidupku

Sekian lama ku telah berusaha dan tak kan kubiarkan semua itu musnah
Kan kugenggam kembali engkau cahayaku, cahaya malamku
Tapi apakah aku layak untukmu, apakah aku bisa menjadi pemimpin untukmu
Aaah...aku pun tak tahu, rasa malu ini menggerogoti keyakinanku
Apakah terlalu egois jika aku berusaha bersanding dengan mu cahaya malam yang begitu indah
Engkau begitu anggun dan indah, sedangkan aku adalah jelaga hitam penuh cela

Kini yang harus kulakukan adalah meperbaiki dan tak mengulanginya kembali
Pahit yang terasa waktu itu masih kuingat saat ini
Kesenangan dan nikmat semu yang diberikan tak sebanding dengan semua ini
Keyakinanku akan perubahan ini seperti layaknya samudra di bumi ini
Tak kan pernah mengering walau apapun kan terjadi
Hati manusia memang seperti layaknya awan dilangit
Mudah sekali berubah
Suatu saat bersih dan cerah dan seketika dapat berubah hitam dan kelam
Tapi kuyakin dengan usaha dan doa, ku kan bisa menjaga hatiku tetap cerah
Dan ku takkan terjatuh lagi dalam lubang hitam itu

Rabu, 07 November 2012

Layang-layang

Terbang  tinggi sudah layang-layang itu melayang
Seakan tak ada yang mampu menggoyahkan
Delapan purnama sudah layang-layang itu melayang
Dan sudah begitu banyak badai dan matahari terik dia lewati

Tapi kini karena suatu hal, layang-layang itu putus
Melayang tak tentu arah terombang ambingkan sang angin
Menukik tajam menghujam tanah
Sisa benangnya terurai menyapu tanah

Akankah ada yang menggapai benang itu dan menenangkan layang-layang itu sehingga dapat melayang anggun lagi.


Jumat, 05 Oktober 2012

Untukmu cahaya malam


Harumnya dedaunan yang telah terbasahi air mata sang awan malam ini,
Ingatkan ku akan nafas cintamu yang seakan telah harumkan relung jiwa ini.
Awan gelap pun telah pergi,
Dan yang tersisa kini hanyalah hangatnya sinar matamu.
Tlah lama kunantikan saat seperti ini,
Saat ketika aku mampu tuk menatap kedua matamu dengan hatiku.
Hati yang telah lama menanti
Hati yang telah lama menunggu, menunggu akan ketidakpastian dari dirimu... Duhai pemilik hatiku.

Tapi mungkin itu adalah sebuah mimpi peneman risauku.
Akan kah mimpi itu akan menjadi kenyataan atau kah tetap berada di alam bawah sadarku
Beberapa waktu yang lalu aku sempat berpikir mimpi itu bukanlah sekedar mimpi
Mimpi itu akan menjadi realita hakiki yang terbantahkan dengan berada nya cahaya malamku disisiku
Tapi karena kebodohan dan ketidakmengertian yang terlalu mengakar dalam diri
Realita itu pun kembali kedalam kodratnya, yaitu hanya sebagai mimpi.

Terlalu lancang bila kini aku mengajukan diriku kembali untuk bersanding denganmu
Terlalu lancang bila kini aku masih menampakkan wajahku di depan wajah cantikmu cahaya malam
Dan bila sudah waktunya engkau menjatuhkan pilihanmu..aku pun akan dengan tersenyum menerimanya
Apapun yang kau pilih jika itu yang terbaik untukmu..aku akan mendukungmu walau pun mungkin itu memerlukan darahku untuk mewujudkannya.

Dan seandainya bisa kukorbankan setengah ragaku hanya untuk mendapatkan secercah cahaya hatimu, maka akan kurelakan itu.
Dan...Takkan tersisa debu penyesalan dalam diriku ketika kau mau bukakan hatimu kembali.

Permainan waktu


Ketika keadaan tlah berkata lain
Tak berpihak pada ingin kita
Janganlah kau salahkan padanya
Tentang apa yang tlah terjadi
Dan mungkin yang kan terjadi kelak
Di suatu massa yang tak kan pernah kita ketahui
Kita manusia hanya bisa menebak dan menerka
Tanpa mengetahui apa yang pasti terjadi

Dan janganlah kau mempersalahkan semua atas dirimu
Karna dirimu sendiri pun sebenarnya tak tahu
Tak tahu apa yang sedang terjadi dan telah berlalu
Tak tahu akan permainan kalbu dan waktu
Semua yang kita lihat adalah semu
Kesemuan yang seakan menipu
Dan janganlah terjerembab dalam kesemuan itu

Rabu, 12 September 2012

Engkaulah kekasihku


Apakah aku terlalu lancang bila ku mengajukan diriku ini tuk menjadi kekasih Mu. Apakah aku ini dan siapakah aku ini hingga ku pantas tuk menjadi kekasih Mu. Tapi Engkaulah Yang Maha Pengasih dan Engkaulah Maha Penyayang. Kasih sayang mu kan selalu tercurah dalam setiap kehidupan mahluk Mu. Setiap rupa dan bentuk di dunia ini adalah wujud dari kasih sayang dan kuasa Mu. Dan aku rasa Kau akan menerimaku kembali setelah sekian lama aku hanyut dalam permainan kehidupan dunia ini. Dunia seakan terus menggodaku dengan berbagai macam permainan yang mengusik rasa dan hasrat ku. Aku adalah manusia biasa bukan manusia Tuhan yang seperti disebutkan Rumi di syairnya.  Setiap jengkal langkah hidupku kan selalu di intai oleh mahluk yang telah Kau usir dari surga bersama Adam dan Hawa.

Aku ingin selalu berada di samping Mu. Kesejukan dan ketenangan yang kurasa saat berjumpa dengan diri Mu dalam imajiku bersama doa doa ku tak kan ada yang mampu mengalahkannya. Aku seakan merasa dimabukkan oleh itu semua dan membuatku ingin lebih dan aku pun jatuh dalam ketergantunganku akan diriMu. Engakaulah yang Maha Kuat tempatku untuk menggantungkan semua hidupku. Engkaulah pemegang hembusan nafasku. Engkaulah pemilik aliran darah ku dan denyut nadiku. Aku adalah mahluk yang lemah tak berdaya tapi terkadang merasa berkuasa. Itulah pengaruh bisikan mahluk terkutuk Mu yang selalu mengintaiku. Dia akan selalu tertawa saat aku terjatuh dalam tipuan rayuannya.

Semua kehidupan dan hasil yang kuperoleh adalah karena kehendak Mu dan itulah yang terbaik untuk Ku. Kau tlah mengatur semuanya sedemikian rupa tanpa cela karena Engkaulah yang Maha Sempurna. Tapi semuanya itu juga dipengaruhi oleh apa yang kuperbuat dan kuusahakan karena Kau tak merubah diriku bila tanpa usahaku. Takdir yang kau tuliskan dalam hidupku seperti batang pohon yang bercabang. Setiap ranting yang ada kan membawa ke suatu hal yang sudah pasti dan sudah kau tentukan. Dan tinggal aku sendiri memilih ranting mana yang kan kujalani.

Begitu banyak nikmat yang tlah ku lupakan dan tak kusadari. Mata, telinga, hidung, tangan , kaki dan semua anggota tubuh ku inilah adalah nikmat dan kemurahan Mu. Tapi apakah balasan ku terhadap semua kenikmatan Mu itu…Aaahh…aku pun malu tuk mengatakannya. Seakan air mata ini tak kan cukup menangisi nya. Begitu banyak dosa yang tlah kulakukan.

Aku ingin menjadi kekasih Mu, kekasih ku. Dan akan kulakukan dengan semua nafas dan darah ku untuk mewujudkannya

Senin, 13 Agustus 2012

Akankah ada jalan kembali pulang

Ketika manusia ditelanjangi oleh kesombongannya
Apa yang bisa dilakukan oleh manusia itu?
Ketika manusia dibodohi oleh kepintarannya
Apa yang bisa dilakukan oleh manusia itu?
Dan ketika manusia dilemahkan oleh kekuatannya
Apa yang bisa dilakukan oleh manusia itu?

Sesungguh nya manusia saat ini tak tersadarkan
Termabukkan oleh ilusi semu kehidupan
Manusia sepertinya memiliki kepintaran dan kekuatan sehingga muncul kesombongan
Tapi apakah mereka mengerti siapakah pemilik semua itu sebenarnya
Dan seharusnya muncul pertanyaan dalam diri manusia itu;"siapakah kita ini?

Jiwa-jiwa yang tenang pun telah termabukkan
Dan jiwa-jiwa yang termabukkan pun telah tersesatkan
Akan kah ada jalan kembali pulang

Sabtu, 21 Juli 2012

Pahit Memang


Hidup manusia kan selalu berputar dinamis seperti hal nya siang dan malam yang kan terus saling menggantikan. Ada pada saatnya hidup ini terasa cerah dan bahagia seperti halnya waktu siang yang berawan, menyejukkan langkah kaki manusia. Semua terasa menyenangkan tak ada kepahitan yang terasa. Senyuman kan selalu tersungging di kedua pipi nya. Tapi ada saatnya pula, tiba-tiba cengkeraman malam menghampirinya. Membuat semuanya sirna, tak terlihat dan tak berbekas. Semua terlihat hitam, kelam tak ada menariknya. Bulan pun enggan muncul dan bintang pun malas tuk bersinar. Kenestapaan lah yang terasa dalam setiap hembusan nafasnya. Seperti itulah hidupku saat ini. Sempat kurasakan nafas surga menghampiri ku, tetapi dengan sekejap nafas itu berubah menjadi hawa panas dari neraka dan membakar semua kebahagiaan yang sempat kurasa. Aku terhuyung lemas dan berjalan dengan tertatih dengan hati yang luka, dengan angan yang terkoyak. Aku hanya bisa menangis dalam diamku, semua kucurahkan hanya pada Mu Ya..Allah. Aku bersimpuh pada Mu, meminta belas kasih sayang Mu. Janganlah kau berikan hamba cobaan yang dapat menghancurkan hamba. Saat ini hamba merasa kan rapuh dalam tekad ku. Asa yang selama ini kusimpan terasa menguap dan lenyap. Akan tetapi aku yakin, Engkau Ya..Allah pasti memberikan yang terbaik untuk hamba Mu ini.
Kulangkahkan kaki ku kembali dengan mantab setelah aku bersimpuh dan menangis di sujud sembah ku. Tak lama kemudian datang kembali nafas surga yang begitu dan lebih menyejukkan. Kugantungkan kembali asa ku di langit-langit hidupku. Akan tetapi, cobaan menerpaku kembali. Mungkin karna keangkuhan dan ketakaburan ku, yang merasa aku begitu lebih dan baik daripada yang  lain. Aku sadar Ya..Allah, hamba hanya mahluk ciptaan Mu yang lemah. Semua yang kucapai saat ini hanyalah karena kemurahan Mu saja. Dan kembali lagi aku bersimpuh dan menangis dalam sujud ku. Memohon belas kasih sayang Mu kembali setelah kesombongan itu merasuki ku dan menghancurkan ku.
Hikmah kan selalu ada dalam setiap kejadian yang dialami oleh manusia. Seburuk apapun yang kita alami pasti lah ada hikmah yang dapat kita pelajari. Sepahit apa pun yang terjadi, pasti ada sesuatu yang manis yang tersembunyi di dalamnya. Aku harus seperti  rumput di depan rumahku. Kan selalu tumbuh walaupun sering dicabut dan di musnahkan. Seperti itulah diriku seharusnya. Kan selalu bangkit dan menjadi lebih baik setelah cobaan dan ujian menghampiri.

Setiap langkah yang ku ayunkan
Setiap nafas yang kuhembuskan
Dan setiap detak dalam jantungku
Adalah milikmu Ya..Allah

Semua itu ada karena belas kasih sayang Mu semata
Tanpa itu, tak kan ada apa-apa di dunia
Begitu pula dalam diriku
Semua karena kemurahan Mu
Begitu pahit yang kualami kini
Seperti terhantam telak dan tersungkur dalam keputus asaan
Dan aku termenung dalam sujud ku
Apakah kesalahan yang telah ku perbuat hingga kau memberikan cobaan ini

Lelah langkah ku menjalaninya
Begitu berliku dan seperti tak berujung jalan di depan ku
Tapi kan kutatap dengan mantab
Dan kan kujalani dengan hati yang bersahaja meminta pertolongan Mu

Tangisku membahana dalam jiwaku
Setiap nafas begitu menyesakkan
Seperti gelas yang dijatuhkan
Dan pecah berkeping keping

Sabtu, 07 Juli 2012

Oooo...negaraku

Seorang manusia hanyalah sosok pemain dalam kehidupan ini. Dia tidak bisa menentukan hidupnya sendiri tanpa kehendak Yang Kuasa. Yang dia bisa hanyalah berusaha dan terus berusaha serta diiringi doa. Tapi saat ini, begitu banyak manusia yang sombong akan kelemahan nya itu. Begitu banyak yang melupakan akan Dia Yang Diatas, yang mengatur semua urusan manusia. Tak sadarkah mereka, bila Allah tlah berkehendak dan murka maka tak kan ada yang mampu menghalangi atau lari dari Nya. Sebuah realita yang sungguh mengecewakan. Begitulah keadaan yang terjadi dalam dunia ku saat ini. Sebuah takdir memang tak berlaku mutlak untuk kita. Takdir pun masih bisa berubah dengan usaha yang sungguh. Tapi tentu saja dengan kehendak Nya. Begitu kelam sungai yang mengalir dalam hatiku saat ini. Inginku dan angan ku agar Dia jernihkan kembali sungai itu. Sebuah hati manusia dan sebuah batu tak ada bedanya lagi saat ini, semua acuh dan semua sibuk sendiri dengan urusan nya masing-masing. Tak ada keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia saat ini. Yang ada hanyalah kesenjangan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. Begitu banyak manusia di negeri ini yang berharta melimpah tapi tak kalah banyak pula bahkan lebih banyak manusia di negeri ini yang hidup nya mengenaskan. Tak bertempat tinggal dan makan pun tak tentu. Di sisi lain tak jauh dari lokasi penyiksaan tersebut, banyak rumah gedong yang tak berpenghuni dimana yang punya tak tahu entah dimana. Mereka hanya beli karena mereka bingung tak tahu lagi uangnya untuk apa bahkan mereka beli hanya untuk status sosial belaka. Di negara ku ini pun tak ada lagi persatuan indonesia. Semua mau mengedepankan tujuan dan kemauan nya sendiri sendiri. Perpecahan pun merebak diseluruh pelosok. Kebenaran tak lagi penting dan dijunjung tinggi. Yang ada hanyalah emosi, uang dan nafsu belaka. Sendi-sendi kehidupan yang serasi selaras dan harmonis mungkin hanya ada di bayanganku saat kecil. Dimana dibangku sekolah selalu dijejalkan dalam pikiran kita bahwa kehidupan di negara ini adalah harmonis, selaras dan seimbang. Begitu banyak kebohongan yang disisipkan dalam pikiran generasi muda pada waktu ku saat itu. Negara ku adalah negara yang kaya , zambrud khatulistiwa dan masyarakat nya ramah tamah. Tapi semua itu hanyalah bualan. Negara ku saat ini memang kaya, kaya akan utang, kaya akan korupsi, kaya akan sandiwara politik, dan tentu saja kaya akan kemiskinan. Negara ku memang pernah disebut zambrud khatulistiwa, tapi itu dulu saat belanda masih bisa minum kopi dan sarapan pagi dengan tenang di batavia. Saat ini zambrud itu telah digunduli menjadi tanah tak bertuan. Warnanya pun tak lagi hijau. Rakyatnya pun tak lagi ramah tamah. Begitu banyak manusia di sini khususnya para penguasa dan manusia yang tak kukenal. Mereka tak bisa disebut ramah tamah tapi lebih tepat disebut marah tamak.
Begitu banyak kejadian yang kita alami dan dapat kita ambil pelajaran darinya. Dimulai dari saat pertama kita tarik nafas ini dan sampai saat terakhir kita hembuskan nafas ini. Seperti hal nya bumi dan alam semesta ini, kehidupan manusia pun mempunyai rotasi dan revolusi nya sendiri dimana akan membentuk suatu pola khusus yang mengagumkan. Sinkronisasi dan harmonisasi dari berbagai macam nada kehidupan akan berbaur menjadi satu dan bersinergi menjadi suatu yang menguatkan dan mengagumkan. Akan kah hal itu terjadi pada negaraku… Ooo..negaraku…negaraku…hanya panggilan itu yang bisa kulakukan saat ini dan aku harap kau pun bangun dari mimpi indahmu..ooo..negaraku.

Senin, 02 Juli 2012

Satukanlah langkah


Bersama kita satukan irama langkah kita tuk merajut bersama masa depan kita
Telah begitu banyak yang kita lalui bersama
Kita habiskan waktu dan kita susun cerita kita dari potongan potongan kata yang tlah kita alami
Memang berjalan bersama itu lebih menyusahkan dari pada berjalan sendiri
Begitu banyak harus kita satu dan padukan untuk itu
Hal yang kecil pun dapat menghambat laju kisah kita
Ayunan langkah yang berbeda beda dari tiap orang kan menentukan semuanya
Ada langkah yang terlalu cepat dan adapula yang terlalu lambat untuk di ikuti
Bila itu semua dibiarkan tanpa ada penyesuaian saat ini maka kan terlalu jauh untuk disatukan kembali nanti.
Pengertian lah yang harus kita bangun dan buanglah semua ego kita karena pastilah tak ada satu pun diantara kita yang ingin hancur
Pastilah setiap diri kita menginginkan kemajuan dan kesuksesan
Saat inilah, mulai kurasakan harmoni langkah kita mulai tergoyahkan
Aku tak tahu langkah siapa kah yang terlalu cepat atau pun siapa yang terlalu lambat
Intropeksi sajalah….itulah kunci saat ini
Tanpa harus berkata sebaiknya kita tahu apa yang harus dilakukan
Sesuatu yang telah kita memiliki memang terkadang terasa tak berharga
Sesuatu yang telah berada didalam saku baju kita terkadang kita lupakan
Hingga kita telah kehilangan dan akhirnya menyadarinya
Dan aku tak mau semua itu terjadi pada diri kita

Senin, 25 Juni 2012

Jakarta di bulan juli


Perjalan manusia tak kan ada habisnya hingga dia menhembuskan nafas terkhirnya dan melepaskan semua keduniawian dan kefanaan yang tiada kekal ini. Semua akan kembali dan dia hanya akan menunggu dalam penantian yang panjang. Seperti halnya aku, aku tak kan pernah berhenti untuk terus memacu langkah ku untuk mencoba berjalan lebih cepat dari waktu sehingga aku dapat mengatur semuanya sesukaku atau hanya sekedar untuk mengimbangi dia karena terkadang kaki ini terlalu berat tuk melangkah.  Kadang aku berpikir, hidup ku seperti diperbudak oleh waktu. Setiap hari ku, aku selalu bertarung dengan nya. Seperti sore ini, ketika matahari dan awan berkolaborasi bersama membentuk suatu warna, nuansa, dan romansa yang begitu indah untuk dinikmati dengan duduk bersandar malas di kursi rotan dan ditemani teh panas. Kubayangkan bagaimana keindahan semua itu akan berpadu dalam jiwaku, menggelitik semua imajiku untuk berpetualang dalam nikmatnya kesempurnaan Sang Pencipta. Ku membayangkan gitar kayu ku yang telah menemani ku dan buku lusuh serta pena yang setia berada disampingku dan mereka selalu rela dan ikhlas untuk ku nodai dengan suasana hatiku. Tapi sayang momen seperti itu terlewat begitu saja tanpa makna karena sekali lagi aku masih diperbudak oleh waktu.
Kulalui jalan kota jogja dengan penuh harap agar aku bisa tepat waktu sampai di stasiun kereta yang telah menunggu ku dan kan melepaskanku dalam bisu dan kesunyian nya. Kulangkahkan kaki ku pelan dan kunikmati saat saat terakhir sore di kota ku ini hari ini. Rindu yang begitu dalam menelusup pelan menerobos selimut hatiku. Kehangatan rindu itu…ya kehangatan rindu ini yang kan memaksa tuk terus kembali pulang ke tanah dimana sebagian dari tubuhku di tanam ketika aku dilahirkan. Kumasuki lorong besi yang kan membawa ku pergi. Yang merebut semua keindahan sore ini. Dalam diam duduk ku, aku tak tahu mengapa begitu banyak wajah yang terlintas dalam bayang mataku. Wajah wajah dimana selalu ada senyuman untuk ku. Mereka lah yang membuatku tegar. Mereka lah yang membuatku tak patah dalam asa ku. Aku merasa begitu sepi didalam gerbong kereta yang penuh sesak ini. Akal dan pikiran ku melayang jauh bersama mereka, wajah wajah yang tersenyum.
Rintik hujan dan awan mendung di cakrawala menyambut kedatangan ku di kota dimana mungkin akan ku tuliskan cerita kehidupan ku. Kisah seorang anak manusia yang mencoba berdiri di atas kakinya. Kuhirup ucapan selamat datang dari udara disekitarku dalam dalam. Kota jakarta ini ternyata masih lelap dalam tidurnya. Tak benar bila kata orang jakarta tak pernah tidur. Kuluruskan dan kulemaskan semua sendi sendi dalam tubuhku. Kumencoba tuk pejamkan mata saat ini untuk beberapa waktu hingga kota ini terbangun dari tidurnya dan aku bisa mencari dan menancapkan asa ku di tempat tertinggi.
Sebuah panggilan adzan membangunkanku dengan penuh kelembutan. Menyegarkan semua anggota tubuhku dan pikiran ku. Melepaskan semua ketakutan dan kesedihanku. Saat seperti inilah, saat aku bisa berbicara denganNya dengan doa dan saat aku bisa berjumpa dalam imajiku dengan Nya. Setelah semua isi hatiku kucurahkan pada Nya. Aku pun bersiap dan akan kulangkahkan kaki ku dengan bijak dan kan kutaklukan kota ini.

Sabtu, 09 Juni 2012

Diriku bagai jelaga hitam yang membuat kotor surga


Diriku bagai jelaga hitam yang membuat kotor surga
Terusik oleh bujukan rayuan sesaat yang membuai
Dan masuk dalam kebodohan
Perjuangan ku selama ini seperti tak ada gunanya
Aku masih tetap kalah
Aku masih tetap lemah
Aku ingin sekedar merasakan sepoi angin surga
Tapi akankah aku bisa merasakannya, karna tak mungkin jelaga hitam ada di surga
Mungkin sebelum sampai ke pintunya pun, sudah dibuangnya aku
Melayang tiada arah untuk berlabuh
Melangkah tanpa tujuan yang pasti
Seperti lagu yang tak bernada
Tak kan bisa dinikmati sebelum tercipta simphoni untuknya
Keindahan yang tak nampak kalah dengan kesemuan yang menggoda
Seperti apakah warna ku saat ini
Seperti apa wajah ku yang sebenarnya yang tak tertutup oleh ironi
Apakah wajah kesunyian atau kah kesedihan
Aku ingin seperti air yang menyejukan dan bawa kehidupan untuk sekitarnya
Bukan seperti api
Api api dan api yang kan membuat panas dan bawa kehancuran kepada apa dan siapa saja yang ditemukannya
Masih membekas dalam seluruh yang ada dalam hidupku
Di pikiranku, di jiwaku, disetiap hembusan kehidupanku
Aku ingin menangis, tapi aku tak mau

Rabu, 23 Mei 2012

Langkahkan kakimu dengan kepala tegak


Sahabat tetaplah kau langkahkan kakimu dengan kepala tegak
Jangan pernah kau tundukkan sedetik pun karena banyak yang kan kau lewatkan
Tataplah apa yang ada dihadapanmu kini dengan senyuman dan keyakinan
Semua kan berjalan dengan baik apapun yang terjadi
Yakinlah masa yang akan datang pasti dapat kau tempuh
Janganlah ada pernah rasa takut yang singgah dalam hatimu
Bila memang kau takut itu wajar karena kita hanya manusia
Tapi cepatlah kau usir dia, rasa takutmu itu sejauh jauhnya
Dan ingat kan ada sahabat-sahabatmu yang lain termasuk aku tentu saja yang selalu siap siaga
Berikan yang ku bisa sebaik mungkin untuk mu sahabat
Waktu yang kau lalui kini baik untuk kau syukuri
Walaupun tak tampak seperti sebuah nikmat yang mungkin patut kau syukuri
Tapi cobalah kau tengok sekitarmu
Buka mata, pikiran dan telingamu
Biarkan mereka merasakan apa yang dirasakan orang-orang sekitarmu
Pasti rasa syukurlah yang akan kau dapat
Karena banyak yang tak cukup beruntung
Tak cukup beruntung untuk menikmati rasa ketidak beruntungan mu
Bersyukurlah atas semua nikmat yang kau dapat
Berbagilah dengan yang lain semampu mu dan tetap usahakan walau terkadang sulit
Senyuman seharusnya selalu terpancar pada diri kita manusia
Karna begitu banyak nikmat yang kita peroleh walau terkadang tak kita sadari
Karna dengan senyuman itu kan dapat menyejukkan dunia yang sudah tak sejuk lagi
Senyum dan keikhlasan dalam hidup ini
Adalah seperti penyedap yang kan mempernikmat hidup
Bayangkan lah bila kita lalui hidup tanpa senyuman dan keikhlasan
Hidup seperti apa yang kan peroleh
Kemurungan, gelisah dan takut
Itulah yang kan kita peroleh
Sahabat, mungkin hanya kata-kata ini yang bisa kuberikan saat ini
Kuharap ini kan berguna dan kan menenangkanmu

Rabu, 09 Mei 2012

Penyenandung hati


Suara merdu ini lah yang menumbuhkan pohon pohon cinta dalam hatiku
Semakin ku dengar dan ku hayati semakin aku tak bisa lepas dan melupakannya
Suara ini lah yang telah menghiasi segala sendi-sendi kehidupan yang terasa memaksa ku
Suara ini lah yang teteskan air kesejukan dalam jiwaku
Saat kau berkata, aku pun terhanyut dalam kenikmatan dan ketentraman yang sungguh dalam
Saat kau berkata, seakan tak kudengar suara-suara lain selain dari mu
Saat kau berkata, ya..saat inilah saat terindah dalam hidupku
Bagai senja di padang rumput di lembah puncak suatu gunung yang pernah kudaki
Memerah dan merekah sempurna
Begitu anggun matahari yang kan menidurkan sinarnya dibumi ku ini
Seperti itulah dirimu..penyenandung hatiku yang terindah
Kau alunkan nada-nada cinta dalam hatiku
Seorang diva di sini pun tak kan mampu saingi mu
Seperti kaleng rombeng yang pecah, seperti itulah suara diva itu jika dibanding dengan mu

Rabu, 02 Mei 2012

Dia


Dia adalah sosok yang lama kurindukan
Mendekap jiwaku dengan penuh kehangatan
Mendekap hidupku dengan kasih sayang

Dia adalah sosok yang memberikan warna dalam hidupku yang semu
Warna yang membuat hidupku berharga dan menarik
Warna yang kan terus buat ku berarti

Dia adalah sebuah nyayian dalam orkes kehidupan
Berikan sentuhan tersendiri yang melengkapi ku
Dan membuatnya lebih dinamis

Dia adalah sungai dalam bumi hatiku
Yang kan hidupkan seluruh sendi hatiku
Yang kan menjaga dari kekeringan rasa

Tak kan ada yang mampu membuatnya pergi dalam hidupku
Tak kan ada yang mampu tandingi nya
Tak kan ada yang kan buatku duakan nya
Dan tak kan ada yang pernah mampu

Rabu, 11 April 2012

Akankah kita sadar


Hancur bersatu jadi debu
Yang tlah lama tak berarti bagiku
Terpecah belah terkoyak arah
Tercabik angan, tak kuasa ku tuk menampik
Akankah kita sadar
Sadar akan sesuatu yang tlah lama belenggu jiwa
Jiwa jiwa yang merdeka
Jiwa jiwa yang tlah lama terkekang massa
Dan jiwa jiwa yang tlah segarkan dunia

Senin, 09 April 2012

Semoga kita berjumpa kembali


Pagi yang dingin menyapa tidurku
Memaksa ku tuk beranjak dan melangkah memulai hari ini
Terasa begitu menyenangkan walaupun mentari tak menyapaku dengan kehangatannya
Terasa begitu melegakan walaupun aku harus bertarung dengan waktu yang menghimpitku
Sebuah tantangan kan kembali kulewati hari ini
Bergumul dengan kertas beserta teman temannya yang selalu ada melengkapinya
Dan bertarung dengan roda waktu yang terus berjalan
Semua terasa begitu cepat bila kita benar-benar hanyut didalamnya
Waktu pun telah menutup arena pertarunganku
Mau tak mau aku harus melangkah pergi
Mungkin kali ini dia tak terlalu berpihak padaku
Tapi tak apalah itu sudah yang terbaik yang kupunya hari ini
Tinggal pintaku kepadaNya agar dia melindungi dan merengkuh mimpiku
Semoga ini menjadi yang terbaik untuk ku
Karna aku pun sesungguhnya tak tahu mana yang terbaik untuk ku
Kita manusia hanya bisa menerka saja.
Dia lah yang Maha Melihat
Dialah yang mengetahui semua urusan manusia
Mata manusia hanyalah suatu karuniaNya yang penuh keterbatasan.
Kususuri lorong sempit yang begitu sesak akan manusia yang senasib saat ini,
Seakan udara pun enggan untuk berada disana.
Kuurungkan niatku sebentar untuk segera bertemu dengan nya
Kusandarkan kembali tubuhku diatas peraduan yang telah menemaniku selama pertarunganku tadi.
Kubayangkan senyuman dan sapa hangat darinya untuk mengusir gerahku.
Tak berapa lama kemudian, walaupun lorong itu masih sesak akan manusia tapi tak sesesak tadi.
Kubulatkan tekad ku untuk melewatinya
Entah apa yang mendorongku
Apakah senyumanya yang menarik kaki ku tuk melangkah
Atau sapa hangatnya kah yang meneguhkan hatiku.
Dibawah rindangnya daun yang menutup panasnya terik matahari
Aku seperti mengenal suara itu
Tak terasa asing bagiku
Suara itulah yang telah membuatku berada disini saat ini
Suara ringan tanpa beban itu yang mampu kuatkan langkahku
Kucari dan terus kucari dimanakah mahluk indah ciptaanNya itu
Kutajamkan semua indra ku
Dia…benar dia
Dia telah berada di depan hidungku
Senyuman nya yang hangat menyambutku
Sungguh..terasa menyejukkan hati
Penat dan lelah yang kurasa pun pergi
Sekali lagi waktu tak berpihak kepadaku
Tanpa segan dia pun pisahkan ku dari dirinya
Duhai…mahluk terindah ciptaanNya
Semoga kita bisa berjumpa kembali

Rabu, 21 Maret 2012

Menghapus kerinduan


Saat ku kan melangkah, kau datang menghampiriku
Seperti hujan pagi hari yang membuat aku malas beranjak dari tidurku dan masih ingin terbuai oleh mimpi
Seperti itulah saat itu.
Ku urungkan langkah ku, menatap mu sejenak dan menghapus kerinduan
Walau kau telah bersama nya.
Ku tak mengapa, karena hanya dengan melihat senyuman itu saja sudah cukup bagiku
Apalah arti hadirku saat ini bila hanya membuat seseorang terluka
Mungkin aku , mungkin kamu atau mungkin dia yang disampingmu
Selembut embun pagi yang rapuh
Yang akan menguap saat mentari tlah terjaga
Seperti itulah arti senyum mu di hatiku
Walau hanya sekilas waktu kau tersenyum
Dan walau hanya sekilas waktu aku mencuri senyum mu
Tapi itu akan menyegarkan hariku, menguatkan hatiku.

Sabtu, 10 Maret 2012

Sayap-sayap kebenaran


Salam ku untuk mu wahai sayap kebenaran
Kepakanlah sayapmu dan relungkanlah pada rongganya
Rongga dimana jiwa dari kebenaran tlah lama tertidur
Sehingga setetes embun dan tiupan angin pagi mampu tuk menghangatkannya
Dan membangunkan dari dekapan malam kebohogan
Kebohongan yang tlah lama berkuasa

Satu warna yang tersaji
Tak ada warna lainkah selain warna ini, warna abu-abu..
Entah mengapa aku mulai merindukan hitam
Mungkin karena hitam itu aku dapat mengenal arti putih
Tak seperti abu-abu yang tak pasti apakah dia akan menjadi putih atau kah hitam
Semuanya penuh ketidak pastian
Dan tak ada kebenaran yang absolut lagi

Kemana mereka yang dulu berteriak dan berjuang atas nama rakyat
Kemana mereka yang dulu bersama mengeratkan barisan untuk menerobos pagar besi kediktaktoran
Dan kemana mereka yang dulu menangis terkena asap pedih gas air mata 
Apakah mereka tlah lupa dengan apa yang diperjuangkan
Apakah sayap-sayap kebenaran yang mereka miliki telah luluh lantah dimakan kenikmatan 




Kamis, 01 Maret 2012

Akankah tercipta damai?


Langkah bumi yang semakin berat menopang semua ulah manusia yang semakin merasa berkuasa mempermainkan nasib dan hidup sesamanya.  Seolah tak ada lagi ketakutan akan hisab yang akan dijatuhkan kepadanya. Dan tak ada belas kasihan dalam hati serta pikiran nya lagi. Semua telah tertutup rapat dan terpendam jauh oleh kebencian dan keangkuhan serta keserakahan. Mereka halalkan semua cara untuk mencapai tujuan, tak terkecuali para jiwa-jiwa yang tak berdosa. Darah dan air mata tak dapat dibedakan lagi di bumi yang suci. Semua tampak sama dan tak ada beda. Darah terus mengalir seperti layaknya air mata seorang anak kecil yang menangis sedu menangisi ayah ibunya yang tak tahu kini berada dimana karena perang telah menyembunyikannya. Tak ada yang mampu membendung mereka lagi. Hanya kita lah sesama manusia yang bersatu yang dapat hentikan semua ketidakadilan ini. Walau kini kita masih terpecah bagai gelas kaca yang dilempar ke tembok ideologi dan paham keduniawian. Tapi masih ada secercah keyakinan yang akan menyatukan kepingan kaca itu. Secercah harapan yang kan bawa semua kedamaian menghampiri kita semua. Menelusup kedalam relung hati dan mengairi seluruh nadi kita.
Senyuman…..itulah yang telah lama hilang saat ini. Semoga senyuman dulu yang terus menyeringai itu kembali lagi. Dan tercipta persatuan diantara kita, umat Nya. Wajah wajah yang tersenyum itulah yang kini langka seperti halnya sembilan bahan pokok sewaktu krisis kepemimpinan tahun 1965. Wajah wajah tersenyum itulah yang kan segarkan dunia. Bagai lampu dimalam hari yang kan menerangi gelapnya dunia, itulah wajah wajah yang tersenyum. Dan tetaplah tersenyum wahai saudara-saudaraku yang sedang berjuang di Palestina, pengorbananmu tak kan sia-sia

Selasa, 28 Februari 2012

JogJAKARTA (Jogja-jakarta)


Perjalan manusia tak kan ada habisnya hingga dia menhembuskan nafas terakhirnya dan melepaskan semua keduniawian dan kefanaan yang tiada kekal ini. Semua akan kembali dan dia hanya akan menunggu dalam penantian yang panjang. Seperti halnya aku, aku tak kan pernah berhenti untuk terus memacu langkah ku untuk mencoba berjalan lebih cepat dari waktu sehingga aku dapat mengatur semuanya sesukaku atau hanya sekedar untuk mengimbangi dia karena terkadang kaki ini terlalu berat tuk melangkah.  Kadang aku berpikir, hidup ku seperti diperbudak oleh waktu. Setiap hari ku, aku selalu bertarung dengan nya. Seperti sore ini, ketika matahari dan awan berkolaborasi bersama membentuk suatu warna, nuansa, dan romansa yang begitu indah untuk dinikmati dengan duduk bersandar malas di kursi rotan dan ditemani teh panas. Kubayangkan bagaimana keindahan semua itu akan berpadu dalam jiwaku, menggelitik semua imajiku untuk berpetualang dalam nikmatnya kesempurnaan Sang Pencipta. Ku membayangkan gitar kayu ku yang telah menemani ku dan buku lusuh serta pena yang setia berada disampingku dan mereka selalu rela dan ikhlas untuk ku nodai dengan suasana hatiku. Tapi sayang momen seperti itu terlewat begitu saja tanpa makna karena sekali lagi aku masih diperbudak oleh waktu.
Kulalui jalan kota jogja dengan penuh harap agar aku bisa tepat waktu sampai di stasiun kereta yang telah menunggu ku dan kan melepaskanku dalam bisu dan kesunyian nya. Kulangkahkan kaki ku pelan dan kunikmati saat saat terakhir sore di kota ku ini hari ini. Rindu yang begitu dalam menelusup pelan menerobos selimut hatiku. Kehangatan rindu itu…ya kehangatan rindu ini yang kan memaksa tuk terus kembali pulang ke tanah dimana sebagian dari tubuhku di tanam ketika aku dilahirkan. Kumasuki lorong besi yang kan membawa ku pergi. Yang merebut semua keindahan sore ini. Dalam diam duduk ku, aku tak tahu mengapa begitu banyak wajah yang terlintas dalam bayang mataku. Wajah wajah dimana selalu ada senyuman untuk ku. Mereka lah yang membuatku tegar. Mereka lah yang membuatku tak patah dalam asa ku. Aku merasa begitu sepi didalam gerbong kereta yang penuh sesak ini. Akal dan pikiran ku melayang jauh bersama mereka, wajah wajah yang tersenyum.
Rintik hujan dan awan mendung di cakrawala menyambut kedatangan ku di kota dimana mungkin akan ku tuliskan cerita kehidupan ku. Kisah seorang anak manusia yang mencoba berdiri di atas kakinya. Kuhirup ucapan selamat datang dari udara disekitarku dalam dalam. Kota metropolitan ini ternyata masih lelap dalam tidurnya. Tak benar bila kata orang kota metropolitan tak pernah tidur. Kuluruskan dan kulemaskan semua sendi sendi dalam tubuhku. Kumencoba tuk pejamkan mata saat ini untuk beberapa waktu hingga kota ini terbangun dari tidurnya dan aku bisa mencari dan menancapkan asa ku di tempat tertinggi.
Sebuah panggilan adzan membangunkanku dengan penuh kelembutan. Menyegarkan semua anggota tubuhku dan pikiran ku. Melepaskan semua ketakutan dan kesedihanku. Saat seperti inilah, saat aku bisa berbicara denganNya dengan doa dan saat aku bisa berjumpa dalam imajiku dengan Nya. Setelah semua isi hatiku kucurahkan pada Nya. Aku pun bersiap dan akan kulangkahkan kaki ku dengan bijak dan kan kutaklukan kota ini.

Senin, 13 Februari 2012

Rindu-rindu tak bertuan


Rindu rindu tak bertuan menelusup pelan dalam dadaku
Memenuhi rongga diantara rusuk ku
Berbaur dengan udara yang kuhirup bersama nafasku
Begitu menyejukkan dan membuaiku
Walau ku tak tahu siapa kah pemilik dari rinduku ini
Dan kemanakah akan kulabuhkan rinduku ini
Seperti racun yang menggerogoti tubuh fana ini
Seperti itulah rindu rindu tak bertuan itu menggelayuti ku
Memaksa ku untuk berjuang melawannya
Agar ku tak terhanyut dalam permainannya
Begitu menggoda permainan yang dia tawarkan buat ku
Menarik sisi lain diriku yang berusaha ku tahan sekuat mungkin
Aku terus mencari penawar racun rindu tak bertuan itu
Rindu itu bagaikan pisau yang menghujam dan menyobek dadaku
Rindu itu bagaikan terik matahari yang membakar hatiku
Jiwa jiwa yang lemah ini mungkin tak kan sanggup menahannya bila tanpa rasa ikhlas dan pasrah pada Yang Kuasa
Ya itulah…Ikhlas dan berpasrah diri pada Nya obat penawar racun ku saat ini

Jumat, 10 Februari 2012

Sebuah Perubahan


Hitam putih kehidupan telah kita lewati
Berbagai rasa dan aroma dari kehidupan pun telah kita rasakan
Inilah saat nya kita berubah dan berusaha menjadi sesuatu yang lebih baik
Kita hidup tak sendiri dan tak hanya buat kita sendiri
Segala perbuatan yang kita lakukan kan selalu ada yang mengawasi
 Bahkan nafas yang kita hembuskan pun kan dihitung
Memang berubah tuk menjadi yang lebih baik tak semudah seperti yang kita pikirkan
Kadang cobaan menghampiri dan membuat kita terperosok kembali
Tapi yakinlah dengan tekad yang tak padam, pastilah kita dapat kembali kejalan yang benar lagi
Dan mungkin tak hanya sekali atau dua kali kita terperosok
Dan mungkin penyesalan yang mendalam pun hinggap dalam diri kita
Tak apa, karena semua itu kan memantapkan langkah kaki kita
Yang harus dilakukan adalah mulai detik ini jangan sampai kita mengulanginya lagi
Biarlah itu menjadi lembar hitam dalam sejarah hidup kita
Biarlah penyesalan itu menjadi memori yang kan selalu menguatkan langkah kita
Tapi jangan pernah penyesalan itu membuat kita berhenti melangkah dan kembali terjatuh
Tetaplah melangkah dengan yakin, karena keyakinan ini kan bawa kebaikan buat kita
Jangan pernah hiraukan bisikan setan dalam hati
Karena hanya keburukan lah yang mereka bawa

Kamis, 02 Februari 2012

13 Desember


Malam yang kering ini menghalangi kantuk yang akan menyerbu ku dan membuai ku dengan mimpinya. Sempat terlintas dalam pikiran ku untuk berlari keluar dan meluapkan apa yang ada di otak ku. Tapi kadang tak tega dengan mereka yang masih terjaga untuk menyongsong dan memastikan bahwa mereka besok akan masih tetap bisa hidup di dunia ini. Tak dapat ku pungkiri bahwa dunia ini mempunyai dua buah wajah yang sangat berbeda. Dunia akan tersenyum kepada mereka-mereka yang mempunyai duit dan kekuasaan.  Tanpa peduli darimana mereka mendapatkan  dan bagaimana cara mendapatkannya. Akan tetapi dunia akan cemberut kecut seperti mangga yang sudah membusuk di pekarangan rumahku untuk para kaum papa dan menengah ke bawah. Sungguh miris dan munafik sekali hidup ini.
Akhirnya kuputuskan untuk berlari dan meluapkan semua ide gila dalam otakku. Lebih baik aku menjadi pemberontak demi suatu keadilan daripada aku tertidur dengan perut gembul tanpa peduli dengan mereka yang berteriak dalam tidurnya karena lapar yang tak tertahankan. Aku berlari menyusuri lorong gelap yang baru aku lihat sekali dalam seumur hidupku. Padahal setiap hari aku melewati lorong ini. Tapi mengapa sekarang suasana nya begitu berbeda, begitu mencekam dan dingin. Menatapku dengan penuh kebencian. Apakah ini adalah wajah nya yang sebenarnya? Berarti setiap hari dia hanya menunjukkan wajah palsu kepadaku….Memang benar hidup di dunia ini harus pintar-pintar bermain mimik wajah sehingga bisa membuat puas para penguasa karena bila tidak maka kita akan tergilas dengan kemunafikan dan akan terjerembab dalam kubangan. Akan tetapi aku tak boleh ter erosi oleh hal tersebut. Aku harus menguatkan pendirian dan ideologi, dan akan kubuktikan kepada dunia bahwa aku bisa membuat suatu perubahan tanpa adanya suatu permainan.
Aku masih terus berlari, tak tahu sampai mana aku saat ini dan sudah berapa lama aku berlari. Yang ada dalam pikiran ku, aku ingin bebas dari segala macam belenggu dunia yang membuat banyak orang terjatuh dalam kemunafikan. Akhirnya aku menyerah pada ketidakmampuan tubuh manusia ini, memang benar manusia itu tidak mempunyai kemampuan yang super tapi mereka berlagak seperti hanya orang super. Orang super yang bertindak semau perut nya sendiri dan merusak apa saja yang telah diciptakan di dunia ini. Keindahan mereka hancurkan dan diganti dengan kebusukan dengan dalil untuk perubahan dan mengimbangi kebutuhan yang semakin membumbung tinggi. Tapi apakah kita selama ini tidak berpikir bahwa kebutuhan itu bukan datang dengan sendirinya, akan tetapi kita ciptakan sendiri. Senjata diciptakan bukan karena untuk berperang akan tetapi perang lah yang diciptakan untuk memenuhi target penjualan dari perusahaan pembuat senjata tersebut. Aku terjatuh dan tertidur di bawah lampu taman kota yang cahaya nya mulai redup karena sudah tak pernah dirawat lagi. 
Pagi mengucapkan salam kepadaku dengan kasar lewat sinar mentari yang menyilaukan mataku dan embun pagi yang menggigilkan dan menggigit tubuhku. Kakiku masih pegal karena terlalu kupaksakan untuk berlari. Perut ku sudah mulai bernyanyi dan sungguh nyanyian itu tak mengenakkan karena itu adalah nyanyian kelaparan. Aku tersadar, aku belum sempat menyantap makanan ku yang sudah tersaji di meja tadi malam. Ah…bodohnya aku. Seperti inilah bila seseorang terlalu bernafsu dan tergesa-gesa. Semuanya berantakan. Aku berusaha untuk berdiri diatas trotoar yang berwarna hijau karena sudah dikuasai oleh lumut dan termakan waktu. Memang agak berat untuk menyeimbangkan tubuhku mungkin karena otak kecil ku sudah kekurangan nutrisi. Dan sudah susah untuk mengirimkan sinyal keseimbangan pada kakiku. Aku berjalan tergopoh-gopoh mencari harapan bahwa masih ada keajaiban buat ku. Akan tetapi apa yang kuperoleh…tidak ada. Aku pun terjatuh lagi dan tak tahu apa yang terjadi.
Saat aku terbangun, nyaman yang kurasakan. Tubuhku sangat nyaman untuk berbaring,seakan tak mau beranjak pergi dan melawan perintah otakku untuk segera beranjak. Lapisan lembut dan empuk ini mengingatkanku akan kamar rumahku. Apakah aku sudah berada dirumah,tapi tentu saja tidak …Bodoh, “ Otakku berteriak padaku. Aku tak sempat meraih dompetku ketika aku berlari dan tentu saja tak ada yang tahu siapa aku di sini. Lalu dimana aku, pertanyaan itu terasa mengejek ketidaktahuanku saat ini. Jejak langkah samar aku dengar, semakin lama semakin keras yang menandakan arahnya mendekat kepadaku. Dan suara itu mengingatkanku akan suatu ilmu fisika, tentang hukum doppler. Sosok tua yang badannya tak tegap lagi menyapa ku dengan ramah tak tampak sedikitpun kesedihan yang tampak diwajah tuanya. Kupandangi dia dengan sangat dan menyeluruh. Dan dia pun dengan bijak dapat memahami keheranan dan kebingunganku. Dengan halus dia berikan segelas teh hangat padaku. Dan setelah kuminum teh itu, dengan sekejap kesadaran ku pun tertampar dan aku pun tersadar dari kebingunganku. Seluruh tubuhku terasa berenergi dan aku rasa aku dapat berlari lagi. Dia raih punggungku dan mendudukkan ku. Dan aku baru tersadar dimana aku berada. Aku berada didalam sebuah gubuk kecil. Tapi apakah ini bisa dikatakan sebagai gubuk karena hanya kardus yang disusun dengan teliti lah yang aku tempati. Tapi tak kusangka ketika kebingungan dan ketidaksadaran masih bergantung di pikiranku, aku merasakan seperti tidur di kasur busa yang empuk.  Apakah ketidaknyamananku ketika tertidur di trotoar yang dingin dan keras membuat ketidaknyamanan kasur kardus itu menjadi nyaman. Dan apakah kenyamanan ku selama ini membuat pikiran ku mengatakan sesuatu yang bisa nyaman menjadi tidak nyaman. Memang semua itu tergantung dari bagaimana kita menyikapi dan berpikir.
Bapak tua itu menyapaku dengan ramah dan tulus. Aku pun begitu takjub akan dirinya. Ditengah ketidaknyamanan yang sebagian orang pikir begitu, Beliau masih bisa merasakan kenyamanan di hati dan pikirannya. Dan dia masih bisa berbagi dengan orang lain sepertiku yang sama sekali tak dia kenal. Sekali lagi aku tertampar dengan fakta dan realita yang kuhadapi. Selama ini aku memandang remeh kepada mereka dan berpikir mereka hanya merusak keindahan kota saja. Tanpa bisa memahami apa motif dan alasan mereka melakukan itu. Aku rasa jika mereka dapat memilih, tentu saja mereka tidak mau memilih seperti ini. Kenyamanan yang mengelilingiku telah membutakan seluruh indra ku. Perasaanku mati suri, perasaanku masih orisinil karena tak pernah kugunakan untuk mengerti sekitarku dengan sungguh.
Obrolan ringan dan hangat pun terjadi secara spontan dan tak ada skenario seperti acara-acara yang ada di tipi tipi saat ini. Kejujuran dan keikhlasan lah yang menopang itu semua. Tidak seperti acara tipi yang sudah diskenario sedemikian rupa sehingga tampak begitu menggugah dan melelehkan hati. Dan terkadang keburukan orang lain mereka buka dan obral agar dapat menarik rating acaranya. Bahkan keburukan mereka sendiri pun mereka obral dengan murah seperti sandal jepit agar mendapatkan popularitas. Memang benar, setan telah berusaha menguasai sebagian besar hati manusia seperti paham liberalisme yang mengatasnamakan hak azazi manusia yang telah meracuni kehidupan negara ku saat ini. Sesuatu yang jelas-jelas salah menurut hati nurani kita, dapat mereka buat menjadi sesuatu yang legal dengan mengataskan kebebasan dan hak azazi manusia. Saat ini sebagian besar manusia khususnya di negaraku ini lebih menyukai melihat penderitaan orang daripada harus membantu ataupun melihat kesenangan orang. Salah satu buktinya adalah suksesnya program-program yang menampilkan kesedihan dan penderitaan orang, dan aku rasa kalian semua tahu apa yang kumaksud tanpa harus aku sebutkan dengan gamblang.
Sebuah realita yang sungguh tak mengenakkan. Diatas bumi yang kaya ini, dimana rakyat nya dikenal ramah tamah dan hidup berazaskan gotong royong tapi mengapa semua kebobrokan ini ada dan berkembang di negri ku. Memang secara pembangunan fisik dan real, negriku ini sudah sangat berkembang dibandingkan beberapa puluh tahun yang lalu. Tapi hal itu tidak terjadi dalam hal pembangunan aspek non fisik seperti moral dan tenggang rasa. Sekali lagi paham liberalisme lah yang telah menggerogoti nya. Kebebasan mereka umbar sebebas-bebasnya tanpa batas. Pancasila dan UUD 45 seakan hanya sebagai hiasan saja. Mungkin para pejuang yang gugur dalam memperoleh kemerdakaan akan menangis bila mengetahui bagaimana negriku saat ini. Dan mungkin, bila mereka tahu, mereka tidak akan berperang dan lebih rela untuk dijajah. Karena tak dapat dipungkiri, beberapa negara yang terjajah dan memperoleh kemerdakaannya secara Cuma-Cuma, saat ini lebih maju daripada kita. Mungkin saat ini bangsa ini belum bisa memimpin bangsanya sendiri atau belum mampu menemukan manusia yang mampu memimpin bangsanya. 

Senin, 23 Januari 2012

Sebuah cerita dari sesosok anak manusia yang sedang berusaha mengubah dunia dengan jalannya sendiri


Sebuah cerita dari sesosok anak manusia yang sedang berusaha mengubah dunia dengan jalannya sendiri. Mencoba melawan ganasnya hidup dan angkuhnya dunia dengan dua tangan kecilnya yang kan selalu mengepal. Tak sedikitpun dia melepaskan kepalannya. Karena kelengahan sedikit saja dapat menggoyahkan langkahnya yang semakin rapuh setiap harinya. Dia, anak manusia itu, tak pernah berhenti untuk mencapai mimpinya. Dan dia, masih tetap anak manusia yang  tak akan pernah menyerah pada kenyataan yang kini menghimpitnya. Karena hanya dengan mimpi yang dia genggam sekarang ini, hidupnya menjadi berarti dan tak hampa.
Rutinitas tiap hari yang mungkin dirasakan bosan oleh manusia pada umumnya, tetap dia lakukan dengan senyuman. Tak pernah senyuman itu pudar dari pipi nya yang tak putih dan tak halus pula. Tapi semua orang pasti tak akan bosan memandang senyuman itu, senyuman yang tulus dari hati yang masih polos. Tak seperti senyuman-senyuman yang saat ini marak terlihat di layar kaca. Seyuman penuh kebohongan dan kemunafikan.
Seiring berjalan nya roda nasib di jalan kehidupan, Dia, anak manusia yang mencoba mengubah hidupnya semakin pintar dalam menyiasati kelicikan dari kehidupan. Memang terlihat terlalu kasar bila kita mengatakan hidup ini mempunyai cara yang licik untuk merobohkan semangat yang murni. Tapi memang yang saat ini terjadi memang begitu, begitu banyak manusia yang akhirnya menyerah pada situasi dan melepaskan semangat murni dan idealis yang dulu pernah mereka punya.
Saat ini, dia tengah tersenyum menikmati perasaan hati yang tak tahu apa artinya itu. Semua terasa indah dan tak bercela. Hidupnya pun terasa lebih berwarna dan seperti dulu yang hanya tampak abu-abu.

Kamis, 19 Januari 2012

Manusia tetaplah manusia


Sepenggal memori masa lalu
Mencuat dan menyemburkan luka
Kembali terbuka dan menganga
Akan kah luka ini akan sembuh dan terobati

Kubungkus rapi dan kusimpan jauh
Kubingkai  dalam wajah penuh senyum
Dan kurangkai dengan canda tawa
Tapi..luka tetaplah luka

Bersimpuh dalam malam
Bermunajat dalam doa
Tersedu merintih
Memohon welas asih

Manusia tetaplah manusia
Tak ada manusia dewa
Tak ada manusia sempurna

Senin, 16 Januari 2012

Sebuah Takdir


Manusia pastilah diciptakan dengan jalan takdir dan kodratnya masing-masing. Dimana semua itu telah dituliskan dan ditentukan sejak manusia tersebut belum dilahirkan ke dunia ini. Takdir manusia sudah lah pasti ada di tangan Sang Pencipta. Akan tetapi Dia hanya menuliskan hasil-hasil dari setiap takdir manusia dan manusia itu sendiri lah yang menentukan dan memilih hasil dari takdirnya sendiri. Mungkin takdir manusia seperti jalan yang bercabang-cabang dimana setiap cabang tersebut memiliki solusi dan hasil yang berbeda-beda. Dibutuhkan ketelitian, kepintaran, dan kearifan di dalam diri manusia untuk memilih dan menentukan bagaimana jalan takdirnya. Seperti telah dikatakan diawal cerita bahwa Dia Sang Pencipta hanya menuliskan akhir dan hasil takdir setiap manusia, sehingga kita diharuskan untuk berusaha.
Takdir manusia sudah pasti seperti pastinya letak Malioboro di Jogja. Semua itu terlihat mudah bila kita sudah mengetahui rute dari jalan-jalan di jogja. Akan tetapi bila kita masih gamang akan rutenya maka semua itu akan terlihat susah. Disinilah peran dari agama. Agama dapat dilihat sebagai suatu rambu-rambu dan penunjuk arah. Akan tetapi kadang kala arah dan rambu-rambu yang diberikan agak membingungkan, disinilah peran akal dan hati manusia untuk bekerja. Dengan akal kita dapat berpikir dan mencari solusi dari makna yang tersembunyi tersebut. Sedangkan dengan hati, kita dapat mengetahui apakah solusi yang kita peroleh itu bermanfaat atau hanya mendatangkan keburukan saja. Apabila dengan akal dan hati kita sendiri, kita masih bingung dan tak mengerti akan artinya, maka disinilah peran para alim ulama. Apabila kita analogikan, alim ulama itu seperti polisi dan orang-orang yang lebih tahu rute sekitar dalam hal ini kehidupan dan rambu-rambu sekitar dalam hal ini adalah agama. Yakinlah pasti “Malioboro” akan ditemukan jika berpegang teguh pada prinsip-prinsip diatas.
Dan setiap jalan yang diambil  dan proses yang dilakukan oleh setiap manusia pastilah tidak sama dan hasil yang diperoleh nya pun akan berbeda-beda pula. Ada yang suka berputar-putar dulu melewati ring road mungkin adapula yang langsung ke tujuan lewat jalan solo. Atau bahkan ada yang berhenti sejenak dan mampir dulu di amplaz atau dugem dulu di Hugos. Atau bahkan ada yang tidak sampai karena keasyikan yang di dapat ditengah perjalanan telah melupakan dia akan hakekat dari tujuannya yang sebenarnya

Kamis, 12 Januari 2012

Menari bersama pelangi

Menari bersama pelangi, bermandikan cahaya mentari
Begitu gemulai tak bisa kuingkari lagi
Tetaplah menari sang penari pelangi
Bersama harmonisasi waktu putaran bumi

Aku tak kan menjadi hujan yang merusak harmonisasimu
Sehingga pudarlah tarianmu itu
Aku tak kan menjadi hujan yang merusak harmonisasimu
Walau tarian mu bukan untukku

Teruslah menari, jangan berhenti
Temukan tumpuan hatimu sang penari
Dan ajak lah dia menari bersamamu, bersama pelangi

Sabtu, 07 Januari 2012

Kan kugenggam kembali cahayaku


Terjerembab dalam lubang hitam hidupku
Yang telah lama kuberusaha meninggalkannya
Melangkah pelan, mendaki dengan payah tebing lubang hitam itu
Dan aku terjatuh kembali kedalamnya
Mencoba berteriak tapi tak bisa
Hanya tangis yang keluar dari bibirku
Yang tersisa hanyalah penyesalan dan duka dalam hati
Kucoba bangkit kembali dan mengumpulkan sisa-sisa tenaga jiwaku
Untuk mendaki dan meraih terang dalam hatiku
Kutampar dengan keras pikiranku agar ku dapat terjaga dari mimpi gelapku
Dan kukumpulkan kembali tekadku agar ku dapat menggapai cahaya dalam hidupku
Sekian lama ku telah berusaha dan tak kan kubiarkan semua itu musnah
Kan kugenggam kembali cahayaku
Kini yang harus kulakukan adalah meperbaiki dan tak mengulanginya kembali
Pahit yang terasa waktu itu masih kuingat saat ini
Kesenangan dan nikmat semu yang diberikan tak sebanding dengan semua ini
Keyakinanku akan perubahan ini seperti layaknya samudra di bumi ini
Tak kan pernah mengering walau apapun kan terjadi
Hati manusia memang seperti layaknya awan dilangit
Mudah sekali berubah
Suatu saat bersih dan cerah dan seketika dapat berubah hitam dan kelam
Tapi kuyakin dengan usaha dan doa, ku kan bisa menjaga hatiku tetap cerah
Dan ku takkan terjatuh lagi dalam lubang hitam itu