Malam yang kering ini menghalangi kantuk yang
akan menyerbu ku dan membuai ku dengan mimpinya. Sempat terlintas dalam pikiran
ku untuk berlari keluar dan meluapkan apa yang ada di otak ku. Tapi kadang tak
tega dengan mereka yang masih terjaga untuk menyongsong dan memastikan bahwa
mereka besok akan masih tetap bisa hidup di dunia ini. Tak dapat ku pungkiri
bahwa dunia ini mempunyai dua buah wajah yang sangat berbeda. Dunia akan
tersenyum kepada mereka-mereka yang mempunyai duit dan kekuasaan. Tanpa peduli darimana mereka mendapatkan dan bagaimana cara mendapatkannya. Akan
tetapi dunia akan cemberut kecut seperti mangga yang sudah membusuk di
pekarangan rumahku untuk para kaum papa dan menengah ke bawah. Sungguh miris
dan munafik sekali hidup ini.
Akhirnya kuputuskan untuk berlari dan meluapkan
semua ide gila dalam otakku. Lebih baik aku menjadi pemberontak demi suatu
keadilan daripada aku tertidur dengan perut gembul tanpa peduli dengan mereka
yang berteriak dalam tidurnya karena lapar yang tak tertahankan. Aku berlari
menyusuri lorong gelap yang baru aku lihat sekali dalam seumur hidupku. Padahal
setiap hari aku melewati lorong ini. Tapi mengapa sekarang suasana nya begitu
berbeda, begitu mencekam dan dingin. Menatapku dengan penuh kebencian. Apakah
ini adalah wajah nya yang sebenarnya? Berarti setiap hari dia hanya menunjukkan
wajah palsu kepadaku….Memang benar hidup di dunia ini harus pintar-pintar
bermain mimik wajah sehingga bisa membuat puas para penguasa karena bila tidak
maka kita akan tergilas dengan kemunafikan dan akan terjerembab dalam kubangan.
Akan tetapi aku tak boleh ter erosi oleh hal tersebut. Aku harus menguatkan
pendirian dan ideologi, dan akan kubuktikan kepada dunia bahwa aku bisa membuat
suatu perubahan tanpa adanya suatu permainan.
Aku masih terus berlari, tak tahu sampai mana
aku saat ini dan sudah berapa lama aku berlari. Yang ada dalam pikiran ku, aku
ingin bebas dari segala macam belenggu dunia yang membuat banyak orang terjatuh
dalam kemunafikan. Akhirnya aku menyerah pada ketidakmampuan tubuh manusia ini,
memang benar manusia itu tidak mempunyai kemampuan yang super tapi mereka
berlagak seperti hanya orang super. Orang super yang bertindak semau perut nya
sendiri dan merusak apa saja yang telah diciptakan di dunia ini. Keindahan
mereka hancurkan dan diganti dengan kebusukan dengan dalil untuk perubahan dan
mengimbangi kebutuhan yang semakin membumbung tinggi. Tapi apakah kita selama
ini tidak berpikir bahwa kebutuhan itu bukan datang dengan sendirinya, akan
tetapi kita ciptakan sendiri. Senjata diciptakan bukan karena untuk berperang
akan tetapi perang lah yang diciptakan untuk memenuhi target penjualan dari
perusahaan pembuat senjata tersebut. Aku terjatuh dan tertidur di bawah lampu
taman kota yang cahaya nya mulai redup karena sudah tak pernah dirawat
lagi.
Pagi mengucapkan salam kepadaku dengan kasar
lewat sinar mentari yang menyilaukan mataku dan embun pagi yang menggigilkan dan
menggigit tubuhku. Kakiku masih pegal karena terlalu kupaksakan untuk berlari.
Perut ku sudah mulai bernyanyi dan sungguh nyanyian itu tak mengenakkan karena
itu adalah nyanyian kelaparan. Aku tersadar, aku belum sempat menyantap makanan
ku yang sudah tersaji di meja tadi malam. Ah…bodohnya aku. Seperti inilah bila
seseorang terlalu bernafsu dan tergesa-gesa. Semuanya berantakan. Aku berusaha
untuk berdiri diatas trotoar yang berwarna hijau karena sudah dikuasai oleh
lumut dan termakan waktu. Memang agak berat untuk menyeimbangkan tubuhku
mungkin karena otak kecil ku sudah kekurangan nutrisi. Dan sudah susah untuk
mengirimkan sinyal keseimbangan pada kakiku. Aku berjalan tergopoh-gopoh
mencari harapan bahwa masih ada keajaiban buat ku. Akan tetapi apa yang
kuperoleh…tidak ada. Aku pun terjatuh lagi dan tak tahu apa yang terjadi.
Saat aku terbangun, nyaman yang kurasakan.
Tubuhku sangat nyaman untuk berbaring,seakan tak mau beranjak pergi dan melawan
perintah otakku untuk segera beranjak. Lapisan lembut dan empuk ini mengingatkanku
akan kamar rumahku. Apakah aku sudah berada dirumah,tapi tentu saja tidak
…Bodoh, “ Otakku berteriak padaku. Aku tak sempat meraih dompetku ketika aku
berlari dan tentu saja tak ada yang tahu siapa aku di sini. Lalu dimana aku,
pertanyaan itu terasa mengejek ketidaktahuanku saat ini. Jejak langkah samar
aku dengar, semakin lama semakin keras yang menandakan arahnya mendekat
kepadaku. Dan suara itu mengingatkanku akan suatu ilmu fisika, tentang hukum
doppler. Sosok tua yang badannya tak tegap lagi menyapa ku dengan ramah tak
tampak sedikitpun kesedihan yang tampak diwajah tuanya. Kupandangi dia dengan
sangat dan menyeluruh. Dan dia pun dengan bijak dapat memahami keheranan dan
kebingunganku. Dengan halus dia berikan segelas teh hangat padaku. Dan setelah
kuminum teh itu, dengan sekejap kesadaran ku pun tertampar dan aku pun tersadar
dari kebingunganku. Seluruh tubuhku terasa berenergi dan aku rasa aku dapat
berlari lagi. Dia raih punggungku dan mendudukkan ku. Dan aku baru tersadar
dimana aku berada. Aku berada didalam sebuah gubuk kecil. Tapi apakah ini bisa
dikatakan sebagai gubuk karena hanya kardus yang disusun dengan teliti lah yang
aku tempati. Tapi tak kusangka ketika kebingungan dan ketidaksadaran masih
bergantung di pikiranku, aku merasakan seperti tidur di kasur busa yang empuk. Apakah ketidaknyamananku ketika tertidur di
trotoar yang dingin dan keras membuat ketidaknyamanan kasur kardus itu menjadi
nyaman. Dan apakah kenyamanan ku selama ini membuat pikiran ku mengatakan
sesuatu yang bisa nyaman menjadi tidak nyaman. Memang semua itu tergantung dari
bagaimana kita menyikapi dan berpikir.
Bapak tua itu menyapaku dengan ramah dan tulus.
Aku pun begitu takjub akan dirinya. Ditengah ketidaknyamanan yang sebagian
orang pikir begitu, Beliau masih bisa merasakan kenyamanan di hati dan
pikirannya. Dan dia masih bisa berbagi dengan orang lain sepertiku yang sama
sekali tak dia kenal. Sekali lagi aku tertampar dengan fakta dan realita yang
kuhadapi. Selama ini aku memandang remeh kepada mereka dan berpikir mereka
hanya merusak keindahan kota saja. Tanpa bisa memahami apa motif dan alasan
mereka melakukan itu. Aku rasa jika mereka dapat memilih, tentu saja mereka
tidak mau memilih seperti ini. Kenyamanan yang mengelilingiku telah membutakan
seluruh indra ku. Perasaanku mati suri, perasaanku masih orisinil karena tak
pernah kugunakan untuk mengerti sekitarku dengan sungguh.
Obrolan ringan dan hangat pun terjadi secara
spontan dan tak ada skenario seperti acara-acara yang ada di tipi tipi saat
ini. Kejujuran dan keikhlasan lah yang menopang itu semua. Tidak seperti acara
tipi yang sudah diskenario sedemikian rupa sehingga tampak begitu menggugah dan
melelehkan hati. Dan terkadang keburukan orang lain mereka buka dan obral agar
dapat menarik rating acaranya. Bahkan keburukan mereka sendiri pun mereka obral
dengan murah seperti sandal jepit agar mendapatkan popularitas. Memang benar,
setan telah berusaha menguasai sebagian besar hati manusia seperti paham
liberalisme yang mengatasnamakan hak azazi manusia yang telah meracuni
kehidupan negara ku saat ini. Sesuatu yang jelas-jelas salah menurut hati
nurani kita, dapat mereka buat menjadi sesuatu yang legal dengan mengataskan
kebebasan dan hak azazi manusia. Saat ini sebagian besar manusia khususnya di
negaraku ini lebih menyukai melihat penderitaan orang daripada harus membantu
ataupun melihat kesenangan orang. Salah satu buktinya adalah suksesnya
program-program yang menampilkan kesedihan dan penderitaan orang, dan aku rasa
kalian semua tahu apa yang kumaksud tanpa harus aku sebutkan dengan gamblang.
Sebuah realita yang sungguh tak mengenakkan.
Diatas bumi yang kaya ini, dimana rakyat nya dikenal ramah tamah dan hidup
berazaskan gotong royong tapi mengapa semua kebobrokan ini ada dan berkembang
di negri ku. Memang secara pembangunan fisik dan real, negriku ini sudah sangat
berkembang dibandingkan beberapa puluh tahun yang lalu. Tapi hal itu tidak
terjadi dalam hal pembangunan aspek non fisik seperti moral dan tenggang rasa.
Sekali lagi paham liberalisme lah yang telah menggerogoti nya. Kebebasan mereka
umbar sebebas-bebasnya tanpa batas. Pancasila dan UUD 45 seakan hanya sebagai
hiasan saja. Mungkin para pejuang yang gugur dalam memperoleh kemerdakaan akan
menangis bila mengetahui bagaimana negriku saat ini. Dan mungkin, bila mereka
tahu, mereka tidak akan berperang dan lebih rela untuk dijajah. Karena tak
dapat dipungkiri, beberapa negara yang terjajah dan memperoleh kemerdakaannya
secara Cuma-Cuma, saat ini lebih maju daripada kita. Mungkin saat ini bangsa
ini belum bisa memimpin bangsanya sendiri atau belum mampu menemukan manusia
yang mampu memimpin bangsanya.