Rabu, 21 Maret 2012

Menghapus kerinduan


Saat ku kan melangkah, kau datang menghampiriku
Seperti hujan pagi hari yang membuat aku malas beranjak dari tidurku dan masih ingin terbuai oleh mimpi
Seperti itulah saat itu.
Ku urungkan langkah ku, menatap mu sejenak dan menghapus kerinduan
Walau kau telah bersama nya.
Ku tak mengapa, karena hanya dengan melihat senyuman itu saja sudah cukup bagiku
Apalah arti hadirku saat ini bila hanya membuat seseorang terluka
Mungkin aku , mungkin kamu atau mungkin dia yang disampingmu
Selembut embun pagi yang rapuh
Yang akan menguap saat mentari tlah terjaga
Seperti itulah arti senyum mu di hatiku
Walau hanya sekilas waktu kau tersenyum
Dan walau hanya sekilas waktu aku mencuri senyum mu
Tapi itu akan menyegarkan hariku, menguatkan hatiku.

Sabtu, 10 Maret 2012

Sayap-sayap kebenaran


Salam ku untuk mu wahai sayap kebenaran
Kepakanlah sayapmu dan relungkanlah pada rongganya
Rongga dimana jiwa dari kebenaran tlah lama tertidur
Sehingga setetes embun dan tiupan angin pagi mampu tuk menghangatkannya
Dan membangunkan dari dekapan malam kebohogan
Kebohongan yang tlah lama berkuasa

Satu warna yang tersaji
Tak ada warna lainkah selain warna ini, warna abu-abu..
Entah mengapa aku mulai merindukan hitam
Mungkin karena hitam itu aku dapat mengenal arti putih
Tak seperti abu-abu yang tak pasti apakah dia akan menjadi putih atau kah hitam
Semuanya penuh ketidak pastian
Dan tak ada kebenaran yang absolut lagi

Kemana mereka yang dulu berteriak dan berjuang atas nama rakyat
Kemana mereka yang dulu bersama mengeratkan barisan untuk menerobos pagar besi kediktaktoran
Dan kemana mereka yang dulu menangis terkena asap pedih gas air mata 
Apakah mereka tlah lupa dengan apa yang diperjuangkan
Apakah sayap-sayap kebenaran yang mereka miliki telah luluh lantah dimakan kenikmatan 




Kamis, 01 Maret 2012

Akankah tercipta damai?


Langkah bumi yang semakin berat menopang semua ulah manusia yang semakin merasa berkuasa mempermainkan nasib dan hidup sesamanya.  Seolah tak ada lagi ketakutan akan hisab yang akan dijatuhkan kepadanya. Dan tak ada belas kasihan dalam hati serta pikiran nya lagi. Semua telah tertutup rapat dan terpendam jauh oleh kebencian dan keangkuhan serta keserakahan. Mereka halalkan semua cara untuk mencapai tujuan, tak terkecuali para jiwa-jiwa yang tak berdosa. Darah dan air mata tak dapat dibedakan lagi di bumi yang suci. Semua tampak sama dan tak ada beda. Darah terus mengalir seperti layaknya air mata seorang anak kecil yang menangis sedu menangisi ayah ibunya yang tak tahu kini berada dimana karena perang telah menyembunyikannya. Tak ada yang mampu membendung mereka lagi. Hanya kita lah sesama manusia yang bersatu yang dapat hentikan semua ketidakadilan ini. Walau kini kita masih terpecah bagai gelas kaca yang dilempar ke tembok ideologi dan paham keduniawian. Tapi masih ada secercah keyakinan yang akan menyatukan kepingan kaca itu. Secercah harapan yang kan bawa semua kedamaian menghampiri kita semua. Menelusup kedalam relung hati dan mengairi seluruh nadi kita.
Senyuman…..itulah yang telah lama hilang saat ini. Semoga senyuman dulu yang terus menyeringai itu kembali lagi. Dan tercipta persatuan diantara kita, umat Nya. Wajah wajah yang tersenyum itulah yang kini langka seperti halnya sembilan bahan pokok sewaktu krisis kepemimpinan tahun 1965. Wajah wajah tersenyum itulah yang kan segarkan dunia. Bagai lampu dimalam hari yang kan menerangi gelapnya dunia, itulah wajah wajah yang tersenyum. Dan tetaplah tersenyum wahai saudara-saudaraku yang sedang berjuang di Palestina, pengorbananmu tak kan sia-sia