Jumat, 18 November 2011

Sebuah pencarian makna

Mencari makna kehidupan yang tersembunyi rapi dibalik semua fatamorgana semu yang sedang terjadi. Tak selalu apa yang tampak dan terang terlihat kedua bola mata kita, itulah kebenaran yang hakiki. Kudaki tanah tertinggi kurasakan dingin nya udaranya yang tersembunyi dibalik sinar mentari yang tak kusadari seberapa panasnya hingga membakar kulitku secara perlahan. Dan tlah kususuri pasir pantai dari yang hitam sampai yang putih untuk kutemukan apalah makna dari hidupku. Apakah hidup ku saat ini adalah yang terbaik untuk ku dan tlah Dia ciptakan memang untuk ku. Ataukah aku sedang tersesat dan tak tau arah dalam hidupku.
Disaat kutapakkan kedua kaki manusia yang lemah ini diatas tanah berbatu tak bertuan waktu itu. Waktu dimana keindahan menyelimuti semua relung tubuhku. Tubuh manusia yang renta ini. Di atas batu yang masih dingin yang masih menyimpan sisa kejamnya malam. Aku terpana melihat indahnya kulit bumi yang telah diukirNya penuh dengan ketelitian. Kesempurnaan yang tersembunyi dibalik ketidaksempurnaan. Hanya ada dua warna yang sungguh menarik dibawahku. Hijau dan biru saja. Permadani hijau pepohonan terbentang dibawahku, seakan menarik kedua lututku untuk bersujud mensyukuri keagungan Nya. Dan diatas permadani hijau itu terbentang langit biru yang bening tak seperti dikota tempat ku tinggal. Sunyi dan dingin yang kurasakan membuat ku semakin terjaga dan membuatku berpikir kembali.  Kapan kah suasana ini akan bisa kunikmati lagi dan sampai kapan semua ini kan terjaga seperti ini. Akankah tanah tak bertuan ini mampu menghadapi tajamnya kapak globalisasi. Dengan mengatasnamakan globalisasi, mereka telah menjarah isi perut bumi ku ini. Dengan mengatasnamakan globalisasi pula mereka dengan seenaknya merusak semua yang ada. Keserasian dan keharmonisan alam tlah mereka rusak hanya untuk sesuatu yang disebut dengan uang. Keseimbangan yang lama telah terjaga pun koyak. Aku yakin bila bumi bisa menangis maka dia akan menangis dan meminta belas kasihan manusia. Dan aku yakin pula bila bumi diijinkan untuk marah maka dia pun akan meluapkan semua kesedihan akan penyiksaan yang telah diterimanya selama ini. Tak kau sadarikah manusia, bahwa kita hidup disini karena belas kasih sayang bumi.
Perjalanan ku kali ini tlah membuka semua mataku menjadi lebih lebar. Ada sesuatu yang lebih penting dari diri kita, yaitu semua yang ada disekeliling kita. Aku sadar bahwa seharusnya bukanlah memikirkan bagaimana hidup kita dan apa yang akan kita peroleh tapi bagaimanakah hidup orang lain dan apa yang akan mereka peroleh karena hidup kita.
Senyum hangat seorang bapak yang berjalan cepat menyusuri jalan setapak dipunggung gunung  dengan membawa beban diatas kepalanya membuat ku lebih bersemangat. Beban yang ada dipundak saat ini belumlah seberapa dengan yang dipikul bapak itu. Apalagi dengan ibu yang kutemui sore kemarin. Dengan sekuat tenaganya dia membawa rumput hijau diatas kepalanya. Mungkin bila dibandingkan dengan isi tas gunung ku, rumput ibu itu pastilah lebih berat. Dengan langkah sigap dia berjalan kembali ke rumahnya. Seakan ada suatu tenaga lebih yang mengisi kedua kakinya untuk menapaki jalan yang tak biasa ini. Tak ada gurat rasa lelah dan kesal yang menggaris diwajahnya. Senyum dan kehangatan lah yang tampak di wajah tua nya. Mungkin senyuman anak-anaknya dirumah yang telah menunggunya itulah yang mengisi kedua kakinya. Ketulusan dan keikhlasan nya untuk berjuang demi sesuap nasi keluarganya lah yang menguatkannya. Aku malu akan diriku sendiri saat itu. Beban yang kubawa belumlah cukup berat, tapi sudah berapa kali aku menggerutu padaNya.
Perjalanan kali ini pula telah memberiku beberapa pelajaran untukku. Memang pengalaman lah guru yang terbaik. Guru yang tak kan terbantahkan oleh argumen-argumen ketidak percayaan. Guru yang tak terbantahkan pula oleh logika-logika keangkuhanku. Tanpa teman-teman yang selama ini selalu menemaniku, aku merasa sendiri di alam ini. Tapi dibalik kesendirian itu terdapat suatu keindahan yang tak pernah kurasakan. Keindahan saat kita tak diselumit ego kita. Keindahan saat kita melepaskan kepalsuan kita, dan keindahan – keindahan lainnya.
Kulangkahkan kakiku perlahan mengikuti irama detak jantungku yang selaras dengan irama perputaran denyut sang bumi. Begitu nyaman dan tak terasa lelah sama sekali. Seandainya hidup kita bisa selaras seperti ini dikota, maka betapa indahnya hidup ini. Tapi sayang sekali ku takbisa seperti itu. Kita akan tertinggal dan hancur bila kita lambatkan sedikit saja langkah kita dibelakang berputarnya roda kehidupan kota. Tak ada toleransi sedikit pun, apalagi belas kasihan. Begitulah hidup ini di kota ini. Kehidupan dikota, khususnya kota tempat ku tinggal seperti sudah termekanisasi dengan suatu aturan dan kecepatan putar tertentu yang tetap dan tak berkompromi. Sehingga mau tak mau kita harus menyesuaikan dengan perputarannya.