Rabu, 19 Juni 2013

Kaum kaum proletar...saatnya berserikat!

Mereka yang mengatasnamakan suara rakyat
Berjoget ria ditengah keriuhan rintihan lapar masyarakat
Tenggelam dimabuk kekuasaan, mereka lupa akan amanat
Sampai kapan kah engkau berlaku bejat?

Mereka yang mengatasnamakan rakyat
Tak peduli bayi bayi disudut kota ini sekarat
Sekarat dan tak mampu berobat
Jangankan berobat, buat makan saja tak kuat

Kaum kaum proletar...saatnya berserikat
Mari kita sikat para kapitalis dan pejanji palsu bangsat
Karena mereka kita sekarat
Setengah mati berjuang melepaskan tali kemiskinan yang mengikat erat

Suara lapar bergaung ditelinga...kutengok sekeliling penuh raut muka tak berdaya
Sedikit berbagi meski tak cukup membalikkan situasi, paling tidak dapat memberikan rasa nyaman akan perut kenyang untuk mereka saudara kaum proletar
Mari kita berserikat samakan irama, buat nada baru dalam negara ini, negara yang tengah sakit
Sakit kronis yang menaun dan tak tahu apa obatnya

Selasa, 04 Juni 2013

Senja dalam malam

Seperti senja dalam malam aku saat ini..dibalik semua kenyamanan yang ada aku masih merasakan resah dan ketidaknyamanan
Telah lama kumematikan nurani ini mencoba berpandangan realistis dan tak beradu argumentasi pada kemunafikan dunia
Telah lama ku mengapatiskan diri akan semua yang terjadi yang mengusik dan menggelitik nuraniku
Mencoba menselaraskan dan menghalau keidealisan jiwa pemberontak dan berusaha mengatakan janganlah kau keras kepala atau kau hancur pada jiwa itu
Berkecamuk dan tak tenang, terkadang aku tak mengerti apa yang kurasakan, gelisah yang tiba tiba datang dan sedih yang terkadang menyapa tak kenal waktu
Kehilangan diri terhanyut akan permainan ini..salah siapakah ini?
Apakah salah mereka yang menciptakan permainan permainan ini atau mungkin salahku sendiri karena keapatisanku sendiri yang telah mengijinkan hanyut dalam permainan ini?
Merenung dalam malam mencoba bertanya pada nurani yang tersisa..apakah masih bisa kembali pulang
Kembali pulang pada nurani dan keidealisan jiwa-jiwa pemberontak itu
Beberapa masa yang lalu..memang begitu banyak gejolak dalam jiwa itu tapi entah mengapa kurasakan kenyamanan dan ketenangan, sedangkan sekarang...mungkin tak ada pergolakan dan semua terasa tenang (paling tidak dipermukaannya karena kehanyutanku akan permainan dunia) tapi ketenangan itu tak kudapat
Mungkinkah aku memang terlahir dan tak mungkin terpisahkan dengan jiwa itu?
Masih tergambar jelas sebuah tulisan, Lebih baik aku diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan...tapi apakah ak siap diasingkan dan menerima segala resikonya dan kalaupun aku meneyerah apakah jiwa ini akan selalul diam tak memberontak? Entahlah aku pun tak tahu....Mungkin hanya Sang pemberi nafas pada jiwa ini yang tahu
Dan hanya satu yang kutahu saat ini dibalik semua yang terjadi, aku berhasil menemukanmu dimana aku berharap kelak bersamamu kuhabiskan hidup ini
Semua resah dan gejolak itu hilang saat aku mendengar suaramu...menghabiskan malam bersamamu dengan bercerita yang kadang hal hal sepele tapi hal sepele itulah yang menjagaku agar selalu bersamamu. Terkadang kita hanya terdiam dan menghabiskan malam bersama dalam diam...terima kasih melatiku telah mau dan mampu mendampingiku hingga saat ini dan aku harap engkau kuat dan sabar dengan segala kekuranganku dan aku akui tak mudah untuk bersamaku dan tak mudah memahamiku...terima kasih sekali lagi melatiku atas kehadiran dan rasa yang tlah kau berikan