Selasa, 18 Februari 2014

Layang-layang

Terbang sudah tinggi layang-layang itu melayang
Tak mampu kuraih walau ku melompat hingga kakiku patah
Harapku hanya satu semoga layang-layang itu sudi untuk turun dan semoga angin yang membawanya jauh tetap berlalu
Biar pun layang-layang itu jatuh ditempat jauh..aku akan berlari meraihnya..tak perduli berapa jaraknya..aku tak kan berhenti
Tapi jika layang-layang itu masih melayang jauh...aku tak mampu meraihnya
Aku manusia biasa yang tak punya sayap untuk meraihmu
Walaupun betapa sangat inginnya aku

Mungkin memang benar......

Mungkin memang benar aku adalah manusia paling sadis dan kejam di dunia ini. Menumpahkan darah dari orang yang kusayangi. Hitler yang aku lihat sosok yang kejam dan sadis yang mampu membantai ribuan manusia tak kan tega melukai Eva Braun pasangan hidupnya. Tapi lihat apa yang telah kuperbuat, Hitler pun tak ada bandingannya.

Mungkin memang benar aku seorang pembunuh yang telah membunuh semua mimpimu dengan ketidakmampuanku. Dan membuatmu dalam kondisi seperti ini.

Dan mungkin memang benar aku lebih baik sendiri bergelut dengan segala pemikiranku yang tidak lumrah. Dan aku tidak ingin melukai lagi siapapun yang ada disampingku. Dan kesendirian mungkin yang terbaik.

Dan untukmu yang telah kutitipkan hatiku, harapku yang terbaik untukmu dan doaku selalu menyertaimu.
Dan aku akan menunggumu dalam diam, melihatmu dalam diam, dan mencintaimu dalam diamku


Realita dan fatamorgana kehidupan

Realita dan fatamorgana kehidupan menari menggoda ku
Menyesatkan ku dalam nikmat yang semu
Muak akan permainan itu
Lelah menghadapinya

Tersesat jauh 
Tak tahu dimana berada
Menghilangku dalam sunyi
Berteman rindu dalam peluk malam

Sendiri senyap
Bersama suara malam
Indah kesunyian dibalut luka yang masih basah
Mungkin memang aku harus melepaskan semua ini
Semua yang telah menyesatkanku untuk mencintai dunia
Cukup sudah aku dipermainkan mu wahai dunia
Saatnya aku pergi, kembali dalam pelukan abadi

Malam Kawanku

Malam kawanku
Sapa hangat dari sahabat lamamu
Lama ku tak menyapa dirimu
Dirimu kini berdebu..terpojokkan di sudut ruang itu
Ruang kelam tak bercahaya lampu

Maaf kawanku
Lama sudah aku membiarkanmu sendiri melawan waktu
Wajahmu kini tak seriang dulu
Dadamu kini tak sebusung waktu kita berjalan melintasi ruang dan waktu
Sinar semangatmu redup tersapu tangis kesedihan, kesendirian

Apa kabar kawanku
Masih maukah kau menjabatku
Menjabatku hangat mendekapku erat
Karena hanya dirimu yang mampu dan sudi menemaniku

Kawan....
Mari temaniku melihat bulan mati
Bulan mati yang paling kau benci
Tapi kumohon kawanku...tetap temaniku

Percaya diri ini telah lenyap
Tak tahu siapa diriku saat ini
Semua tlah kulakukan
Semua tlah kuberikan
Tapi beginilah akhirnya..terpuruk sendiri dalam ruang kesunyian

Tak ada perdebatan panjang
Tak ada argumen sengit
Logikaku kupendam dalam
Semua katanya aku telan bulat
Tapi tetap saja aku tak mampu memuaskannya

Kawanku...
Semoga kau tak menertawakanku kini
Menertawakan kekalahanku
Karena hanya dirimu lah yang tersisa dan bisa mendekapku
Dan benar yang kau katakan kawan..aku telah dibutakan..dibutakan cinta yang tak semestinya