Sabtu, 31 Desember 2011

Adakah yang salah tentang perayaan tahun baru?

Kawan..seperti itulah kalimat yang selama ini terngiang di telinga ku
Terus membayangi ketidaktahuanku
Hari ini, hari minggu 1 januari, hari yang menurutku biasa saja
Tetapi mungkin hanya aku saja yang merasa biasa saja
Karena aku lihat begitu banyak manusia yang bergegap gempita menyambutnya

Kusempatkan hari sabtu siang untuk berkunjung ke kawasan puncak dan sekitarnya
Hanya untuk melihat-lihat dan sedikit membuka wawasan dan pikiranku
Dan sekiranya sudah cukup aku pun pulang
Karena aku tak ingin terjebak macet dan membuang waktu ku sia-sia

Kuakhiri pencarian dan observasiku pada sore hari,ba'da ashar
Begitu banyak pasangan muda-mudi di sana
Ada yang sekedar berbicara dan menikmati suasana
Ada yang sedang asyik bermesraan di antara kebun teh (Apakah mereka sudah menjadi muhrim?)
Ada yang sedang sibuk menawar harga sewa kamar villa (Mau ngapain mereka?)
Beberapa pertanyaan pun muncul

Dan aku dengar dari perkataan temanku,
Bahwa menurut survei, pembelian alat kontrasepsi meningkat ketika malam tahun baru dan fucklentine
Dan sebagian besar adalah pasangan muda-mudi ( What the hell)
Sebuah fakta yang membuat miris
Ketika generasi muda adalah tunas baru bangsa
Ditangan pemuda lah masa depan bangsa ini kan tergantung
Tapi apa jadinya bila mental muda mudi kita seperti itu
Mau dibawa kemana kah.. negara ini

Ditengah kemirisanku, sedikit aku melihat cahaya
Di masjid itu, masjid At taawun..
Masih banyak yang berjamaah ashar
Masih banyak yang ingat akan hakikat manusia diciptakan

Kawan...bolehlah kiranya aku sedikit bercerita tentang sejarah yang kuketahui,...
Perayaan tahun baru tanggal 1 januari, pertama kali diwajibkan di jaman romawi
Tujuannya adalah untuk memberikan perayaan pada dewa Janus (Dewa semua permulaan)
Dan januari berasal dari nama dewa romawi tersebut, Janus

Kawan...bagaimana menurut kalian?
Apakah kalian layak untuk merayakan nya?
Aku serahkan semua keputusan kalian pada diri kalian sendiri
Karena semua orang punya berbagai sudut pandang
Yang mungkin benar dan mungkin salah

Jumat, 30 Desember 2011

Diamku...

Diamku...bukan berarti aku mengacuhkan mu
Karena dalam setiap waktu aku selalu memikirkan mu
Dan berusaha membuat mu tuk selalu tersenyum

Diamku bukan berarti aku melupakanmu
Karena dalam setiap tulisan yang ku tulis
Selalu terselip namamu dalam hatiku

Diamku bukan berarti tak ada rasa kepadamu
Karena dalam setiap hembus nafas
Rasa itu selalu menelusup

Dan diamku adalah karena...
Karena aku ingin menjaga kesucian rasa ini
Tak ingin ku, nafsuku yang mengotori
Kesucian dan keikhlasan yang kuharap

Dan diamku adalah karena...
Aku menunggu hingga saatnya nanti
Aku tlah pantas untukmu
Dan kan kupinang dirimu, hingga kau pun halal bagiku

Dan bila kau pertanyakan apa yang kulakukan saat ini?
Aku akan menjawab dengan tegas tanpa ragu
Aku mempersiapkan diriku agar ku bisa menjadi imammu
Baik di dunia fana ini ataupun di akherat kekal

Jodoh itu ada dua macam, melatiku
Jodoh di dunia dan jodoh di akherat kelak
Dan aku ingin kita tetap berjodoh di akherat
Karena aku tak ingin kelak terpisah dengan mu di sana
Dan semoga semua itu di ijabahiNya..

Kamis, 29 Desember 2011

Sebuah memori pendakian


Udara pagi pun menelusup dalam rongga dadaku
Bawa kesegaran sisa sisa sang malam
Kulangkahkan kaki ini menelusuri jalan setapak diantara rumput ilalang yang masih terbasahi embun pagi.
Sinar mentari pun belum terlalu panas menghangatkan kulitku
Sungguh indah perpaduan sang embun dan sinar mentari ini
Diantara kesegaran dan kesejukan terdapat suatu kehangatan
Permadani hijau terhampar luas di depan mataku
Tirai putih pun masih menggantung diantara udara udara pagi ini
Sungguh indah perpaduan warna mereka, pepohonan dan kabut lembah ini
Seorang pelukis manapun di dunia ini tak kan bisa menandingi keindahan perpaduan ini
 Suara gemericik air yang mengalun pelan
Suara binatang binatang yang tak tampak olehku terkadang menyeruak diantara suara gemericik air itu dan menghasilkan suatu simponi nada yang begitu indah dan menenangkan
Mozart pun tak kan bisa menghasilkan simponi seperti ini, simponi kehidupan
Perjalan nan jauh dan terjal pun seakan tak terasa dan tak sebanding dengan semua yang kurasakan saat kulalui jalan jalan setapak di lembah dan bukitmu
Untuk mencapai puncak tertinggi, sehingga kudapat melihat betapa luas alam ini dengan kedua mataku yang kecil ini

Senin, 12 Desember 2011

Seperti apakah kisah mu



Berdiri tegak memandang kosong ke langit kau lakukan tiap hari dijalan yang kulalui ini
Entah apa yang kau pikirkan karena kupikir kau terlalu muda untuk semua ini
Mungkin begitu banyak yang telah terjadi pada mu yang tak kuketahui
Pastilah banyak yang tak kuketahui akan dirimu karena hanya sepintas lalu aku berjumpa dengan dirimu
Dan semua itu membuat ku buta akan perjalan hidup mu
Aku tak bisa mereka dan menerka apa yang dibalik tatapan kosong mu
Tapi…hari ini kurasakan sesuatu yang berbeda
Tak seperti biasanya
Kau tertunduk lesu seperti orang yang kalah akan sesuatu
Lunglai, itulah yang kulihat dari posisi tangan mu
Apakah yang telah kau lalui beberapa waktu ini
Apakah kau sudah merasa bosan dan tak kuat tuk hadapi semua
Semula aku berpikir tatapan kosong mu itu berarti kau tengah bermain dengan otakmu tuk mencari bagaimana kah kau akan mengakali hidupmu hari ini yang selalu menekan mu
Ya…seperti itulah kiranya, tapi apakah aku salah aku pun tak tahu karna hanya dirimu lah yang tahu.

Selasa, 06 Desember 2011

Untitled#1


Saat ini mungkin kita belum ditakdirkan tuk bersama, Melatiku. Saat ini pula mungkin kita masih berjalan di jalan yang masih berbeda dan berjauhan. Aku masih berkutat merajut jalan kehidupan ku sehingga aku pantas untuk mu dan kau pun sudah berjalan di jalan mu yang sudah mulai tersusun rapi. Aku yakin, di luar sana banyak lelaki yang menaruh hati padamu. Dan aku yakin diantara lelaki itu pastilah ada dan mungkin banyak lebih baik dari ku. Dan ku kan berusaha tuk mengusir segala rasa marahku bila kau pilih dia bukan diriku tuk menjadi imam dalam kehidupan mu di masa yang akan datang. Bila kau pilih dia, aku hanya bisa pasrah dan menerima nya dengan senyum karena walau pahit untuk ku tapi tak mengapa karena itu mungkin yang terbaik untuk mu. Seorang pecinta sejati yang benar benar mencintai kekasihnya pastilah akan rela melepaskan yang dikasihinya bila yang dikasihinya itu mendapat yang terbaik, bukan memaksa untuk bersama dirinya. Akan tetapi, bila semua itu belum terjadi dan semoga tidak akan terjadi karena itu adalah hal yang tersulit untuk kulakukan, aku akan berusaha sebaik mungkin dan aku akan terus bermunajat pada Nya agar di waktu yang akan datang, Dia mempertemukan jalan kita yang saat ini masih terpisah dan semoga aku menjadi yang terbaik untuk mu walau aku bukan yang terbaik diantara mereka dan semoga kau menjadi yang terbaik untuk ku.
Hati mu keras tak seperti perempuan-perempuan lain yang kutemui, itulah yang terus mengikat hatiku untuk selalu disampingmu dan menjaga mu. Sikap mu yang tegas dan kadang tak kenal toleransi untuk hal-hal fundamental, itu pula lah yang terus mengikat hatiku. Tapi akankah ikatan yang mengikat hatiku ini akan membuat suatu kebaikan. Aku pun tak tahu. Dan ketika ku tatap jauh kedalam matamu melalui mata hatiku, kutemukan api yang berkobar, suatu semangat yang begitu indah yang membuatku pun ikut terbawa dalam luapan luapan semangat itu dan terus menghangatkanku dari dinginnya dunia ini.
Kuakui paras wajah mu memang begitu cantik dan menggoda. Setiap lelaki yang menatap mu pastilah akan terjatuh dalam rasa mencintaimu. Tapi bukan itu yang membuat ku terjatuh dalam pelukan cintamu. Keteguhan hati…ya itulah yang membuatku terjatuh dalam pelukan cintamu.

Jumat, 18 November 2011

Sebuah pencarian makna

Mencari makna kehidupan yang tersembunyi rapi dibalik semua fatamorgana semu yang sedang terjadi. Tak selalu apa yang tampak dan terang terlihat kedua bola mata kita, itulah kebenaran yang hakiki. Kudaki tanah tertinggi kurasakan dingin nya udaranya yang tersembunyi dibalik sinar mentari yang tak kusadari seberapa panasnya hingga membakar kulitku secara perlahan. Dan tlah kususuri pasir pantai dari yang hitam sampai yang putih untuk kutemukan apalah makna dari hidupku. Apakah hidup ku saat ini adalah yang terbaik untuk ku dan tlah Dia ciptakan memang untuk ku. Ataukah aku sedang tersesat dan tak tau arah dalam hidupku.
Disaat kutapakkan kedua kaki manusia yang lemah ini diatas tanah berbatu tak bertuan waktu itu. Waktu dimana keindahan menyelimuti semua relung tubuhku. Tubuh manusia yang renta ini. Di atas batu yang masih dingin yang masih menyimpan sisa kejamnya malam. Aku terpana melihat indahnya kulit bumi yang telah diukirNya penuh dengan ketelitian. Kesempurnaan yang tersembunyi dibalik ketidaksempurnaan. Hanya ada dua warna yang sungguh menarik dibawahku. Hijau dan biru saja. Permadani hijau pepohonan terbentang dibawahku, seakan menarik kedua lututku untuk bersujud mensyukuri keagungan Nya. Dan diatas permadani hijau itu terbentang langit biru yang bening tak seperti dikota tempat ku tinggal. Sunyi dan dingin yang kurasakan membuat ku semakin terjaga dan membuatku berpikir kembali.  Kapan kah suasana ini akan bisa kunikmati lagi dan sampai kapan semua ini kan terjaga seperti ini. Akankah tanah tak bertuan ini mampu menghadapi tajamnya kapak globalisasi. Dengan mengatasnamakan globalisasi, mereka telah menjarah isi perut bumi ku ini. Dengan mengatasnamakan globalisasi pula mereka dengan seenaknya merusak semua yang ada. Keserasian dan keharmonisan alam tlah mereka rusak hanya untuk sesuatu yang disebut dengan uang. Keseimbangan yang lama telah terjaga pun koyak. Aku yakin bila bumi bisa menangis maka dia akan menangis dan meminta belas kasihan manusia. Dan aku yakin pula bila bumi diijinkan untuk marah maka dia pun akan meluapkan semua kesedihan akan penyiksaan yang telah diterimanya selama ini. Tak kau sadarikah manusia, bahwa kita hidup disini karena belas kasih sayang bumi.
Perjalanan ku kali ini tlah membuka semua mataku menjadi lebih lebar. Ada sesuatu yang lebih penting dari diri kita, yaitu semua yang ada disekeliling kita. Aku sadar bahwa seharusnya bukanlah memikirkan bagaimana hidup kita dan apa yang akan kita peroleh tapi bagaimanakah hidup orang lain dan apa yang akan mereka peroleh karena hidup kita.
Senyum hangat seorang bapak yang berjalan cepat menyusuri jalan setapak dipunggung gunung  dengan membawa beban diatas kepalanya membuat ku lebih bersemangat. Beban yang ada dipundak saat ini belumlah seberapa dengan yang dipikul bapak itu. Apalagi dengan ibu yang kutemui sore kemarin. Dengan sekuat tenaganya dia membawa rumput hijau diatas kepalanya. Mungkin bila dibandingkan dengan isi tas gunung ku, rumput ibu itu pastilah lebih berat. Dengan langkah sigap dia berjalan kembali ke rumahnya. Seakan ada suatu tenaga lebih yang mengisi kedua kakinya untuk menapaki jalan yang tak biasa ini. Tak ada gurat rasa lelah dan kesal yang menggaris diwajahnya. Senyum dan kehangatan lah yang tampak di wajah tua nya. Mungkin senyuman anak-anaknya dirumah yang telah menunggunya itulah yang mengisi kedua kakinya. Ketulusan dan keikhlasan nya untuk berjuang demi sesuap nasi keluarganya lah yang menguatkannya. Aku malu akan diriku sendiri saat itu. Beban yang kubawa belumlah cukup berat, tapi sudah berapa kali aku menggerutu padaNya.
Perjalanan kali ini pula telah memberiku beberapa pelajaran untukku. Memang pengalaman lah guru yang terbaik. Guru yang tak kan terbantahkan oleh argumen-argumen ketidak percayaan. Guru yang tak terbantahkan pula oleh logika-logika keangkuhanku. Tanpa teman-teman yang selama ini selalu menemaniku, aku merasa sendiri di alam ini. Tapi dibalik kesendirian itu terdapat suatu keindahan yang tak pernah kurasakan. Keindahan saat kita tak diselumit ego kita. Keindahan saat kita melepaskan kepalsuan kita, dan keindahan – keindahan lainnya.
Kulangkahkan kakiku perlahan mengikuti irama detak jantungku yang selaras dengan irama perputaran denyut sang bumi. Begitu nyaman dan tak terasa lelah sama sekali. Seandainya hidup kita bisa selaras seperti ini dikota, maka betapa indahnya hidup ini. Tapi sayang sekali ku takbisa seperti itu. Kita akan tertinggal dan hancur bila kita lambatkan sedikit saja langkah kita dibelakang berputarnya roda kehidupan kota. Tak ada toleransi sedikit pun, apalagi belas kasihan. Begitulah hidup ini di kota ini. Kehidupan dikota, khususnya kota tempat ku tinggal seperti sudah termekanisasi dengan suatu aturan dan kecepatan putar tertentu yang tetap dan tak berkompromi. Sehingga mau tak mau kita harus menyesuaikan dengan perputarannya.

Kamis, 25 Agustus 2011

Lebah dan Burung Pemakan Bangkai

Seekor lebah kecil terbang rendah menukik tanjam dan mendarat di bunga yang tengah mekar
Dengan kaki kecilnya dia menginjak hati-hati mahkota bunga itu..
Dengan pelan dia hisap nektar yang tersimpan didalamnya...
Lebah hanya akan mencari makanan yang baik-baik saja..
Tidak sembarang dia makan apa yang ada di hadapanya
Dan dari sumber yang baik itu, akan dihasilkannya madu yang tak kalah baiknya

Lebah tak sama dengan burung pemakan bangkai
Walaupun mereka sama-sama bisa terbang dan memiliki sayap
Tapi burung pemakan bangkai memakan bangkai dari mahluk hidup lainnya
Dia hidup dari kematian mahluk lainnya...
Tak seperti lebah..
Lebah hidup dengan membantu mahluk hidup lainnya untuk hidup..
Ketika lebah menghisap nektar, dia akan menjatuhkan serbuk sari ke putik dan terbentuk lah buah
Dari buah itu akan terbentuk biji, dan dari biji itu akan terbentuk kehidupan yang baru
Sungguh perbedaan yang signifikan

Lalu seperti apakah hidup kita saat ini?
Seperti lebah kah?
Atau seperti burung pemakan bangkai yang menginginkan kematian yang lain agar dirinya hidup?

Jumat, 20 Mei 2011

Aku...seorang manusia yang diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi
Aku....mahluk yang telah diberi Nya akal dan budi pekerti untuk mencoba mengerti
Apakah akan kuingkari kodrat dan fitrah ku sebagai anak cucu Adam?
Apakah kan ku khianati amanah yang mengalir dalam darahku?

Hidupku bukan hanya untuk ku
Hidup ku bukan sebuah properti pribadiku yang bisa kumainkan seenak hatiku
Hidupku adalah hidup mereka
Dimana banyak tangan-tangan yang memegang pundakku untuk bertahan

Sampai kapan pundak manusia yang mulai lapuk dimakan waktu ini bisa bertahan
Sampai kapan aku dapat memegang erat tali-tali harapan yang tengah kugenggam ini
Beribu skenario kehidupan tergambar dalam ruang kecil otakku
Mencoba mencari jalan terbaik yang dapat kutempuh

Dan Ku ukir Malam

Bersama malam kulukis langit dengan tinta mimpiku
Kulukis bersama terangnya rasi- rasi bintang yang tersusun rapi
Kugantungkan semua mimpi mimpiku disana agar dapat kulihat selalu
Dan terlecutlah gelora gairahku untuk menggapainya

Dalam tidurku, terbayang indahnya sakura yang berkawan dengan salju putih
Betapa sempurna permainan warna yang disajikan
Dalam tidurku, terbayang angkuhnya sisa-sisa tembok berlin 
Yang membelenggu kemerdekaan sekian juta manusia kala itu
Dalam tidurku, terbayang romantisme eifel yang berdiri anggun di tepi sungai seine
Dan ditemani cahaya lampu yang cantik dan menggoda

Suatu saat kan kuinjakkan kedua telapak kakiku di sana
Dan kan ku ukir namaku di dalam perkamen sejarah yang mengharumkan nama bangsaku

Selasa, 10 Mei 2011

Sisi gelap dalam diriku mulai memberontak
Berteriak dan menjejak
Dia mulai runtuhkan tembok-tembok etika dalam hatiku
Menggerogoti setiap sisi-sisi kemanusianku

Akankah dia kan terlepas dan bebas tak terkendali
Akankah dapat kukekang dengan sisa tenagaku yang rapuh
Aku sendiri pun tak tahu kemana ini akan berjalan dan berakhir

Masih berjalan sendiri kuselami makna aku diciptakan di dunia
Menelusuri setiap lorong dalam hidupku baik kelam maupun putih
Sempat aku tersesat dalam lorong gelapku dan terasa tak dapat ku kembali
Disaat itulah kebijaksanaan filosofi seorang manusia membantuku mencari arah dalam gelapku

Minggu, 10 April 2011

Sebuah senyuman

Sebuah senyuman sudah cukup untuk meredakan lelahku
Sebuah tawa lepas sudah cukup menghilangkan penatku semalam
Sebuah pengorbanan yang pantas untuk dilakukan
Perjalanan setengah hari berdesakan di lorong sebuah kereta ekonomi terbayar sudah...
Senyum mereka dan sambut hangat mereka yang selalu membukakan pintu kapan pun aku mau pulang telah menghapus raut lelah dalam wajahku
Senyum di wajah-wajah yang sangat kusayangi sangat lah berharga
Dan senyum di raut muka yang tak muda lagi itu yang paling kurindu
Dan maafkan aku anak mu ini yang belum bisa berbuat banyak untuk mu yang telah menjaga ku selama ini
Dan aku berjanji dengan nafasku, aku kan selalu membuat wajah- wajah itu untuk selalu tersenyum

Rabu, 06 April 2011

Dimana para generasi muda bangsa ini

Dimana para generasi muda bangsa ini.
Generasi muda yang masih penuh idealisme
Generasi muda yang masih mempunyai semangat pembaharuan dan perubahan
Lama sudah tak kulihat sosok-sosok itu
Mereka semua telah diasyikan oleh berbagai macam tipuan yang telah diciptakan
Mereka semua telah dipaksa untuk mengikuti sistem yang ada
Sistem yang dengan perlahan mengikis jiwa muda mereka
Ayo para pemuda Indonesia..saatnya kita bangkit
Inilah waktu kita untuk memimpin..dan bukan waktunya kita untuk masih bermain-main
Saatnya para orang tua yang duduk disinggasana kekuasaan kita turunkan
Dan saatnya kita memimpin
Sejarah telah membuktikan bahwa kita lah, para pemuda yang bisa buat perubahan
Mereka yang sudah terlanjur tua tak mau lagi berjuang
Mereka sudah terlanjur menikmati sistem yang ada
Mana Sukarno-Sukarno muda yang berani meneriakkan bull shit Amerika
Mana Sukarno-Sukarno muda yang berani mengganyang Malaysia karna harga diri bangsanya terinjak
Mana Sukarno-Sukarno muda yang berani menciptakan pemikiran baru dan berani menentang tirani imperialisme...
Ayo kinilah saatnya kita pemuda Indonesia bertindak

Selasa, 05 April 2011

Senandung rindu tak bertuan

Senandung rindu tak bertuan inilah yang telah menghiasi cerita hidupku
Membuatnya semakin menarik dan penuh makna
Kepada siapa kah kan kulabuhkan rindu rindu tak bertuan ini
Mungkin salah satunya adalah kepada Penciptaku yang menguasai nafasku
Dimana semua nafas dan kekuatanku adalah karunia dari Nya
Lalu kepada siapa lagi kah akan kulabuhkan rindu rindu yang lain ini
Rindu rindu yang tak betuan, akankah dia menemukan pemiliknya untuk berlabuh
Rindu rindu tak bertuan, sampai kapankah kau akan mencari

Inginku membuat mereka tersenyum

Dibelai angin semilir, jiwaku diajak nya berlari dalam khayal
Kupejamkan mataku sejenak dan berusaha kuhentikan waktu sementara saja
Biar kunikmati semilir angin ini..
Biar kunikmati kesejukan dibalik keringnya suasana

Ditemani sinar pucat sore hari
Dimana seakan mentari tlah lelah tuk bersinar dan ingin dia segera menghilang dan beristirahat
Ditemani kopi hitam kental yang memabukkan dan membuat degup jantungku berdebar kencang
Aku menyendiri di sini mencari makna akan hidupku
Aku menyendiri disini meratapi ketidakmampuan ku merubah nasib-nasib saudaraku 
Dimana mereka harus berjuang dengan darah mereka hanya untuk menyambung tali kehidupan esok hari

Ironi kehidupan terpapar begitu jelas di depanku
Kesenjangan sosial yang begitu nyata menggugah jiwa mudaku yang mudah tersulut
Bukannya aku tak berusaha untuk mengubah semua ini...
Tapi aku telah berusaha sesuai kapasitas dan kewajibanku..dan tak ada perubahan yang cukup berarti
Tapi apakah aku akan lantas menyerah dan berpangku tangan tak berbuat apa-apa
Lebih baik aku berusaha semampuku, walaupun tak membuat perubahan yang besar..tapi paling tidak aku bisa membuat mereka yang kurang beruntung tersenyum sebentar saja..

Ironi Kehidupan

Dibelai angin semilir, jiwaku diajak nya berlari dalam khayal
Kupejamkan mataku sejenak dan berusaha kuhentikan waktu sementara saja
Biar kunikmati semilir angin ini..
Biar kunikmati kesejukan dibalik keringnya suasana

Ditemani sinar pucat sore hari
Dimana seakan mentari tlah lelah tuk bersinar dan ingin dia segera menghilang dan beristirahat
Ditemani kopi hitam kental yang memabukkan dan membuat degup jantungku berdebar kencang
Aku menyendiri di sini mencari makna akan hidupku
Aku menyendiri disini meratapi ketidakmampuan ku merubah nasib-nasib saudaraku 
Dimana mereka harus berjuang dengan darah mereka hanya untuk menyambung tali kehidupan esok hari

Ironi kehidupan terpapar begitu jelas di depanku
Kesenjangan sosial yang begitu nyata menggugah jiwa mudaku yang mudah tersulut
Bukannya aku tak berusaha untuk mengubah semua ini...
Tapi aku telah berusaha sesuai kapasitas dan kewajibanku..dan tak ada perubahan yang cukup berarti
Tapi apakah aku akan lantas menyerah dan berpangku tangan tak berbuat apa-apa
Lebih baik aku berusaha semampuku, walaupun tak membuat perubahan yang besar..tapi paling tidak aku bisa membuat mereka yang kurang beruntung tersenyum sebentar saja..
Bukan lah hasil dari tindakan kita tapi proses lah yang lebih penting dan bermakna

Sebatang lidi yang berusaha mengubah dunia

Sebuah cerita tentang sebatang lidi yang berusaha mengubah dunia. Tak takut patah dia terus berusaha memebersihkan sampah yang ada didepannya. Dia pilih dengan cermat dan teliti sampah mana yang bisa dia bersihkan. Bukan dia tak mau menyelesaikan semuanya, bukan dia juga seorang pemilih...tapi dia harus dengan cermat menentukan sampah mana yang bisa dia bersihkan dan mana yang kan buat dia patah dan berhenti. Karena sekali dia terpatahkan tak kan bisa lagi dia membersihkan sampah kehidupan ini. Dan hanya dia lah yang tersisa dan mau bersusah payah membersihkan sampah-sampah kehidupan. Marilah kawan kita menjadi sebatang lidi itu...jangan takutkan apapun Kawan