Senin, 25 Juni 2012

Jakarta di bulan juli


Perjalan manusia tak kan ada habisnya hingga dia menhembuskan nafas terkhirnya dan melepaskan semua keduniawian dan kefanaan yang tiada kekal ini. Semua akan kembali dan dia hanya akan menunggu dalam penantian yang panjang. Seperti halnya aku, aku tak kan pernah berhenti untuk terus memacu langkah ku untuk mencoba berjalan lebih cepat dari waktu sehingga aku dapat mengatur semuanya sesukaku atau hanya sekedar untuk mengimbangi dia karena terkadang kaki ini terlalu berat tuk melangkah.  Kadang aku berpikir, hidup ku seperti diperbudak oleh waktu. Setiap hari ku, aku selalu bertarung dengan nya. Seperti sore ini, ketika matahari dan awan berkolaborasi bersama membentuk suatu warna, nuansa, dan romansa yang begitu indah untuk dinikmati dengan duduk bersandar malas di kursi rotan dan ditemani teh panas. Kubayangkan bagaimana keindahan semua itu akan berpadu dalam jiwaku, menggelitik semua imajiku untuk berpetualang dalam nikmatnya kesempurnaan Sang Pencipta. Ku membayangkan gitar kayu ku yang telah menemani ku dan buku lusuh serta pena yang setia berada disampingku dan mereka selalu rela dan ikhlas untuk ku nodai dengan suasana hatiku. Tapi sayang momen seperti itu terlewat begitu saja tanpa makna karena sekali lagi aku masih diperbudak oleh waktu.
Kulalui jalan kota jogja dengan penuh harap agar aku bisa tepat waktu sampai di stasiun kereta yang telah menunggu ku dan kan melepaskanku dalam bisu dan kesunyian nya. Kulangkahkan kaki ku pelan dan kunikmati saat saat terakhir sore di kota ku ini hari ini. Rindu yang begitu dalam menelusup pelan menerobos selimut hatiku. Kehangatan rindu itu…ya kehangatan rindu ini yang kan memaksa tuk terus kembali pulang ke tanah dimana sebagian dari tubuhku di tanam ketika aku dilahirkan. Kumasuki lorong besi yang kan membawa ku pergi. Yang merebut semua keindahan sore ini. Dalam diam duduk ku, aku tak tahu mengapa begitu banyak wajah yang terlintas dalam bayang mataku. Wajah wajah dimana selalu ada senyuman untuk ku. Mereka lah yang membuatku tegar. Mereka lah yang membuatku tak patah dalam asa ku. Aku merasa begitu sepi didalam gerbong kereta yang penuh sesak ini. Akal dan pikiran ku melayang jauh bersama mereka, wajah wajah yang tersenyum.
Rintik hujan dan awan mendung di cakrawala menyambut kedatangan ku di kota dimana mungkin akan ku tuliskan cerita kehidupan ku. Kisah seorang anak manusia yang mencoba berdiri di atas kakinya. Kuhirup ucapan selamat datang dari udara disekitarku dalam dalam. Kota jakarta ini ternyata masih lelap dalam tidurnya. Tak benar bila kata orang jakarta tak pernah tidur. Kuluruskan dan kulemaskan semua sendi sendi dalam tubuhku. Kumencoba tuk pejamkan mata saat ini untuk beberapa waktu hingga kota ini terbangun dari tidurnya dan aku bisa mencari dan menancapkan asa ku di tempat tertinggi.
Sebuah panggilan adzan membangunkanku dengan penuh kelembutan. Menyegarkan semua anggota tubuhku dan pikiran ku. Melepaskan semua ketakutan dan kesedihanku. Saat seperti inilah, saat aku bisa berbicara denganNya dengan doa dan saat aku bisa berjumpa dalam imajiku dengan Nya. Setelah semua isi hatiku kucurahkan pada Nya. Aku pun bersiap dan akan kulangkahkan kaki ku dengan bijak dan kan kutaklukan kota ini.

Sabtu, 09 Juni 2012

Diriku bagai jelaga hitam yang membuat kotor surga


Diriku bagai jelaga hitam yang membuat kotor surga
Terusik oleh bujukan rayuan sesaat yang membuai
Dan masuk dalam kebodohan
Perjuangan ku selama ini seperti tak ada gunanya
Aku masih tetap kalah
Aku masih tetap lemah
Aku ingin sekedar merasakan sepoi angin surga
Tapi akankah aku bisa merasakannya, karna tak mungkin jelaga hitam ada di surga
Mungkin sebelum sampai ke pintunya pun, sudah dibuangnya aku
Melayang tiada arah untuk berlabuh
Melangkah tanpa tujuan yang pasti
Seperti lagu yang tak bernada
Tak kan bisa dinikmati sebelum tercipta simphoni untuknya
Keindahan yang tak nampak kalah dengan kesemuan yang menggoda
Seperti apakah warna ku saat ini
Seperti apa wajah ku yang sebenarnya yang tak tertutup oleh ironi
Apakah wajah kesunyian atau kah kesedihan
Aku ingin seperti air yang menyejukan dan bawa kehidupan untuk sekitarnya
Bukan seperti api
Api api dan api yang kan membuat panas dan bawa kehancuran kepada apa dan siapa saja yang ditemukannya
Masih membekas dalam seluruh yang ada dalam hidupku
Di pikiranku, di jiwaku, disetiap hembusan kehidupanku
Aku ingin menangis, tapi aku tak mau