Langkah bumi yang
semakin berat menopang semua ulah manusia yang semakin merasa berkuasa
mempermainkan nasib dan hidup sesamanya.
Seolah tak ada lagi ketakutan akan hisab yang akan dijatuhkan kepadanya.
Dan tak ada belas kasihan dalam hati serta pikiran nya lagi. Semua telah
tertutup rapat dan terpendam jauh oleh kebencian dan keangkuhan serta
keserakahan. Mereka halalkan semua cara untuk mencapai tujuan, tak terkecuali
para jiwa-jiwa yang tak berdosa. Darah dan air mata tak dapat dibedakan lagi di
bumi yang suci. Semua tampak sama dan tak ada beda. Darah terus mengalir
seperti layaknya air mata seorang anak kecil yang menangis sedu menangisi ayah
ibunya yang tak tahu kini berada dimana karena perang telah menyembunyikannya.
Tak ada yang mampu membendung mereka lagi. Hanya kita lah sesama manusia yang
bersatu yang dapat hentikan semua ketidakadilan ini. Walau kini kita masih
terpecah bagai gelas kaca yang dilempar ke tembok ideologi dan paham
keduniawian. Tapi masih ada secercah keyakinan yang akan menyatukan kepingan
kaca itu. Secercah harapan yang kan bawa semua kedamaian menghampiri kita
semua. Menelusup kedalam relung hati dan mengairi seluruh nadi kita.
Senyuman…..itulah yang
telah lama hilang saat ini. Semoga senyuman dulu yang terus menyeringai itu
kembali lagi. Dan tercipta persatuan diantara kita, umat Nya. Wajah wajah yang
tersenyum itulah yang kini langka seperti halnya sembilan bahan pokok sewaktu
krisis kepemimpinan tahun 1965. Wajah wajah tersenyum itulah yang kan segarkan
dunia. Bagai lampu dimalam hari yang kan menerangi gelapnya dunia, itulah wajah
wajah yang tersenyum. Dan tetaplah tersenyum wahai saudara-saudaraku yang
sedang berjuang di Palestina, pengorbananmu tak kan sia-sia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar