Perjalan manusia tak kan ada habisnya hingga
dia menhembuskan nafas terakhirnya dan melepaskan semua keduniawian dan
kefanaan yang tiada kekal ini. Semua akan kembali dan dia hanya akan menunggu
dalam penantian yang panjang. Seperti halnya aku, aku tak kan pernah berhenti
untuk terus memacu langkah ku untuk mencoba berjalan lebih cepat dari waktu
sehingga aku dapat mengatur semuanya sesukaku atau hanya sekedar untuk
mengimbangi dia karena terkadang kaki ini terlalu berat tuk melangkah. Kadang aku berpikir, hidup ku seperti
diperbudak oleh waktu. Setiap hari ku, aku selalu bertarung dengan nya. Seperti
sore ini, ketika matahari dan awan berkolaborasi bersama membentuk suatu warna,
nuansa, dan romansa yang begitu indah untuk dinikmati dengan duduk bersandar malas
di kursi rotan dan ditemani teh panas. Kubayangkan bagaimana keindahan semua
itu akan berpadu dalam jiwaku, menggelitik semua imajiku untuk berpetualang
dalam nikmatnya kesempurnaan Sang Pencipta. Ku membayangkan gitar kayu ku yang
telah menemani ku dan buku lusuh serta pena yang setia berada disampingku dan
mereka selalu rela dan ikhlas untuk ku nodai dengan suasana hatiku. Tapi sayang
momen seperti itu terlewat begitu saja tanpa makna karena sekali lagi aku masih
diperbudak oleh waktu.
Kulalui jalan kota jogja dengan penuh harap
agar aku bisa tepat waktu sampai di stasiun kereta yang telah menunggu ku dan
kan melepaskanku dalam bisu dan kesunyian nya. Kulangkahkan kaki ku pelan dan
kunikmati saat saat terakhir sore di kota ku ini hari ini. Rindu yang begitu
dalam menelusup pelan menerobos selimut hatiku. Kehangatan rindu itu…ya
kehangatan rindu ini yang kan memaksa tuk terus kembali pulang ke tanah dimana
sebagian dari tubuhku di tanam ketika aku dilahirkan. Kumasuki lorong besi yang
kan membawa ku pergi. Yang merebut semua keindahan sore ini. Dalam diam duduk
ku, aku tak tahu mengapa begitu banyak wajah yang terlintas dalam bayang
mataku. Wajah wajah dimana selalu ada senyuman untuk ku. Mereka lah yang
membuatku tegar. Mereka lah yang membuatku tak patah dalam asa ku. Aku merasa
begitu sepi didalam gerbong kereta yang penuh sesak ini. Akal dan pikiran ku
melayang jauh bersama mereka, wajah wajah yang tersenyum.
Rintik hujan dan awan mendung di cakrawala
menyambut kedatangan ku di kota dimana mungkin akan ku tuliskan cerita
kehidupan ku. Kisah seorang anak manusia yang mencoba berdiri di atas kakinya.
Kuhirup ucapan selamat datang dari udara disekitarku dalam dalam. Kota
metropolitan ini ternyata masih lelap dalam tidurnya. Tak benar bila kata orang
kota metropolitan tak pernah tidur. Kuluruskan dan kulemaskan semua sendi sendi
dalam tubuhku. Kumencoba tuk pejamkan mata saat ini untuk beberapa waktu hingga
kota ini terbangun dari tidurnya dan aku bisa mencari dan menancapkan asa ku di
tempat tertinggi.
Sebuah panggilan adzan membangunkanku dengan
penuh kelembutan. Menyegarkan semua anggota tubuhku dan pikiran ku. Melepaskan
semua ketakutan dan kesedihanku. Saat seperti inilah, saat aku bisa berbicara
denganNya dengan doa dan saat aku bisa berjumpa dalam imajiku dengan Nya.
Setelah semua isi hatiku kucurahkan pada Nya. Aku pun bersiap dan akan
kulangkahkan kaki ku dengan bijak dan kan kutaklukan kota ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar