Kamis, 02 Februari 2012

13 Desember


Malam yang kering ini menghalangi kantuk yang akan menyerbu ku dan membuai ku dengan mimpinya. Sempat terlintas dalam pikiran ku untuk berlari keluar dan meluapkan apa yang ada di otak ku. Tapi kadang tak tega dengan mereka yang masih terjaga untuk menyongsong dan memastikan bahwa mereka besok akan masih tetap bisa hidup di dunia ini. Tak dapat ku pungkiri bahwa dunia ini mempunyai dua buah wajah yang sangat berbeda. Dunia akan tersenyum kepada mereka-mereka yang mempunyai duit dan kekuasaan.  Tanpa peduli darimana mereka mendapatkan  dan bagaimana cara mendapatkannya. Akan tetapi dunia akan cemberut kecut seperti mangga yang sudah membusuk di pekarangan rumahku untuk para kaum papa dan menengah ke bawah. Sungguh miris dan munafik sekali hidup ini.
Akhirnya kuputuskan untuk berlari dan meluapkan semua ide gila dalam otakku. Lebih baik aku menjadi pemberontak demi suatu keadilan daripada aku tertidur dengan perut gembul tanpa peduli dengan mereka yang berteriak dalam tidurnya karena lapar yang tak tertahankan. Aku berlari menyusuri lorong gelap yang baru aku lihat sekali dalam seumur hidupku. Padahal setiap hari aku melewati lorong ini. Tapi mengapa sekarang suasana nya begitu berbeda, begitu mencekam dan dingin. Menatapku dengan penuh kebencian. Apakah ini adalah wajah nya yang sebenarnya? Berarti setiap hari dia hanya menunjukkan wajah palsu kepadaku….Memang benar hidup di dunia ini harus pintar-pintar bermain mimik wajah sehingga bisa membuat puas para penguasa karena bila tidak maka kita akan tergilas dengan kemunafikan dan akan terjerembab dalam kubangan. Akan tetapi aku tak boleh ter erosi oleh hal tersebut. Aku harus menguatkan pendirian dan ideologi, dan akan kubuktikan kepada dunia bahwa aku bisa membuat suatu perubahan tanpa adanya suatu permainan.
Aku masih terus berlari, tak tahu sampai mana aku saat ini dan sudah berapa lama aku berlari. Yang ada dalam pikiran ku, aku ingin bebas dari segala macam belenggu dunia yang membuat banyak orang terjatuh dalam kemunafikan. Akhirnya aku menyerah pada ketidakmampuan tubuh manusia ini, memang benar manusia itu tidak mempunyai kemampuan yang super tapi mereka berlagak seperti hanya orang super. Orang super yang bertindak semau perut nya sendiri dan merusak apa saja yang telah diciptakan di dunia ini. Keindahan mereka hancurkan dan diganti dengan kebusukan dengan dalil untuk perubahan dan mengimbangi kebutuhan yang semakin membumbung tinggi. Tapi apakah kita selama ini tidak berpikir bahwa kebutuhan itu bukan datang dengan sendirinya, akan tetapi kita ciptakan sendiri. Senjata diciptakan bukan karena untuk berperang akan tetapi perang lah yang diciptakan untuk memenuhi target penjualan dari perusahaan pembuat senjata tersebut. Aku terjatuh dan tertidur di bawah lampu taman kota yang cahaya nya mulai redup karena sudah tak pernah dirawat lagi. 
Pagi mengucapkan salam kepadaku dengan kasar lewat sinar mentari yang menyilaukan mataku dan embun pagi yang menggigilkan dan menggigit tubuhku. Kakiku masih pegal karena terlalu kupaksakan untuk berlari. Perut ku sudah mulai bernyanyi dan sungguh nyanyian itu tak mengenakkan karena itu adalah nyanyian kelaparan. Aku tersadar, aku belum sempat menyantap makanan ku yang sudah tersaji di meja tadi malam. Ah…bodohnya aku. Seperti inilah bila seseorang terlalu bernafsu dan tergesa-gesa. Semuanya berantakan. Aku berusaha untuk berdiri diatas trotoar yang berwarna hijau karena sudah dikuasai oleh lumut dan termakan waktu. Memang agak berat untuk menyeimbangkan tubuhku mungkin karena otak kecil ku sudah kekurangan nutrisi. Dan sudah susah untuk mengirimkan sinyal keseimbangan pada kakiku. Aku berjalan tergopoh-gopoh mencari harapan bahwa masih ada keajaiban buat ku. Akan tetapi apa yang kuperoleh…tidak ada. Aku pun terjatuh lagi dan tak tahu apa yang terjadi.
Saat aku terbangun, nyaman yang kurasakan. Tubuhku sangat nyaman untuk berbaring,seakan tak mau beranjak pergi dan melawan perintah otakku untuk segera beranjak. Lapisan lembut dan empuk ini mengingatkanku akan kamar rumahku. Apakah aku sudah berada dirumah,tapi tentu saja tidak …Bodoh, “ Otakku berteriak padaku. Aku tak sempat meraih dompetku ketika aku berlari dan tentu saja tak ada yang tahu siapa aku di sini. Lalu dimana aku, pertanyaan itu terasa mengejek ketidaktahuanku saat ini. Jejak langkah samar aku dengar, semakin lama semakin keras yang menandakan arahnya mendekat kepadaku. Dan suara itu mengingatkanku akan suatu ilmu fisika, tentang hukum doppler. Sosok tua yang badannya tak tegap lagi menyapa ku dengan ramah tak tampak sedikitpun kesedihan yang tampak diwajah tuanya. Kupandangi dia dengan sangat dan menyeluruh. Dan dia pun dengan bijak dapat memahami keheranan dan kebingunganku. Dengan halus dia berikan segelas teh hangat padaku. Dan setelah kuminum teh itu, dengan sekejap kesadaran ku pun tertampar dan aku pun tersadar dari kebingunganku. Seluruh tubuhku terasa berenergi dan aku rasa aku dapat berlari lagi. Dia raih punggungku dan mendudukkan ku. Dan aku baru tersadar dimana aku berada. Aku berada didalam sebuah gubuk kecil. Tapi apakah ini bisa dikatakan sebagai gubuk karena hanya kardus yang disusun dengan teliti lah yang aku tempati. Tapi tak kusangka ketika kebingungan dan ketidaksadaran masih bergantung di pikiranku, aku merasakan seperti tidur di kasur busa yang empuk.  Apakah ketidaknyamananku ketika tertidur di trotoar yang dingin dan keras membuat ketidaknyamanan kasur kardus itu menjadi nyaman. Dan apakah kenyamanan ku selama ini membuat pikiran ku mengatakan sesuatu yang bisa nyaman menjadi tidak nyaman. Memang semua itu tergantung dari bagaimana kita menyikapi dan berpikir.
Bapak tua itu menyapaku dengan ramah dan tulus. Aku pun begitu takjub akan dirinya. Ditengah ketidaknyamanan yang sebagian orang pikir begitu, Beliau masih bisa merasakan kenyamanan di hati dan pikirannya. Dan dia masih bisa berbagi dengan orang lain sepertiku yang sama sekali tak dia kenal. Sekali lagi aku tertampar dengan fakta dan realita yang kuhadapi. Selama ini aku memandang remeh kepada mereka dan berpikir mereka hanya merusak keindahan kota saja. Tanpa bisa memahami apa motif dan alasan mereka melakukan itu. Aku rasa jika mereka dapat memilih, tentu saja mereka tidak mau memilih seperti ini. Kenyamanan yang mengelilingiku telah membutakan seluruh indra ku. Perasaanku mati suri, perasaanku masih orisinil karena tak pernah kugunakan untuk mengerti sekitarku dengan sungguh.
Obrolan ringan dan hangat pun terjadi secara spontan dan tak ada skenario seperti acara-acara yang ada di tipi tipi saat ini. Kejujuran dan keikhlasan lah yang menopang itu semua. Tidak seperti acara tipi yang sudah diskenario sedemikian rupa sehingga tampak begitu menggugah dan melelehkan hati. Dan terkadang keburukan orang lain mereka buka dan obral agar dapat menarik rating acaranya. Bahkan keburukan mereka sendiri pun mereka obral dengan murah seperti sandal jepit agar mendapatkan popularitas. Memang benar, setan telah berusaha menguasai sebagian besar hati manusia seperti paham liberalisme yang mengatasnamakan hak azazi manusia yang telah meracuni kehidupan negara ku saat ini. Sesuatu yang jelas-jelas salah menurut hati nurani kita, dapat mereka buat menjadi sesuatu yang legal dengan mengataskan kebebasan dan hak azazi manusia. Saat ini sebagian besar manusia khususnya di negaraku ini lebih menyukai melihat penderitaan orang daripada harus membantu ataupun melihat kesenangan orang. Salah satu buktinya adalah suksesnya program-program yang menampilkan kesedihan dan penderitaan orang, dan aku rasa kalian semua tahu apa yang kumaksud tanpa harus aku sebutkan dengan gamblang.
Sebuah realita yang sungguh tak mengenakkan. Diatas bumi yang kaya ini, dimana rakyat nya dikenal ramah tamah dan hidup berazaskan gotong royong tapi mengapa semua kebobrokan ini ada dan berkembang di negri ku. Memang secara pembangunan fisik dan real, negriku ini sudah sangat berkembang dibandingkan beberapa puluh tahun yang lalu. Tapi hal itu tidak terjadi dalam hal pembangunan aspek non fisik seperti moral dan tenggang rasa. Sekali lagi paham liberalisme lah yang telah menggerogoti nya. Kebebasan mereka umbar sebebas-bebasnya tanpa batas. Pancasila dan UUD 45 seakan hanya sebagai hiasan saja. Mungkin para pejuang yang gugur dalam memperoleh kemerdakaan akan menangis bila mengetahui bagaimana negriku saat ini. Dan mungkin, bila mereka tahu, mereka tidak akan berperang dan lebih rela untuk dijajah. Karena tak dapat dipungkiri, beberapa negara yang terjajah dan memperoleh kemerdakaannya secara Cuma-Cuma, saat ini lebih maju daripada kita. Mungkin saat ini bangsa ini belum bisa memimpin bangsanya sendiri atau belum mampu menemukan manusia yang mampu memimpin bangsanya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar