Minggu, 25 Agustus 2013

Grey in Vienna

Gemuruh hati membuka perih
Membuka semua pintu-pintu memori luka
Air mata mengalir tiada henti tak terbendung..letih
Letih dan tak berdaya menatap cakrawala vienna

Begitu indah guratan mega diatas sana..bersatu dengan deretan bangunan tua peninggalan jaman nazi
Romantisme berpadu dengan klasik seperti gula dan teh hangat dalam rasa ini
Terasa manis dalam kepahitan..ada senyum dalam tangis ini
Mencoba tak menghiraukannya tapi aku manusia biasa saja

Apakah aku salah selama ini dalam menempatkannya sehingga bidadari itu tak mampu merasakannya
Atau kah aku salah dalam menunjukkannya sehingga bidadari itu tak bisa berjalan sesuai dengan rasaku
Aku tak tahu...mungkin hanya Tuhan yang tahu

Kulihat bidadari itu terluka dan menangis
Apakah dia menangis karena aku terlalu mencintainya atau karena aku terlihat tidak mencintainya karena kebodohanku dalam pengungkapan...mungkin benar aku tidak pandai dalam membaca hati dan mengungkapkan rasa.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar